Institusion
Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya
Author
Wenny Rosalin Widyasari Purnomo (STUDENT ID : wennyr8@gmail.com)
Ivan Gunawan (LECTURER ID : ..)
Ignatius Jaka Mulyana (LECTURER ID : ..)
Subject
Engineering
Datestamp
2021-01-26 13:50:58
Abstract :
Menghadapi berbagai masalah pangan, seperti keracunan makanan, merupakan sebuah kepentingan yang mendasar dari sebuah industri pangan. Industri pangan harus melakukan penarikan produk pangan (food recall) apabila terjadi kontaminasi produk pangan dengan bahan berbahaya (hazardous materials) didalam produknya, yang tentunya membutuhkan biaya yang sangat besar. Salah satu cara untuk menyikapi masalah ini adalah dengan melakukan sistem traceability. Bukan hanya menelusuri produk pangan, namun sistem traceability ini juga harus meminimasi resiko. Meminimasi resiko merupakan salah satu upaya dari industri pangan untuk menjaga kepercayaan dari pelanggan. Berbagai penelitian dan studi dilakukan untuk menyelesaikan permasalahan ini, Dupuy et al. (2005) mengembangkan model batch dispersion berbasis MILP (Mix Integer Linear Programming) untuk meminimalkan penyebaran batch dalam lingkup produksinya. Namun penerapan model ini belum diuji tentang pengaruhnya terhadap biaya simpan. Maka dari itu, pada penelitian ini akan dijelaskan lebih lanjut mengenai dampak dari penerapan model terhadap biaya inventory. Model matematis dari penelitian Dupuy et al. (2005) akan digunakan sebagai acuan untuk mengetahui dampaknya. Pengembangan model diterapkan pada sebuah industri pangan yang memiliki komposisi pencampuran tertentu dan jenis bahan baku berbeda. Didapatkan hasil bahwa adanya peningkatan biaya simpan sebesar 11% untuk skenario yang menggunakan model batch dispersion dibandingkan dengan skenario proses produksi yang menggunakan sistem bulk.