Institusion
Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya
Author
Desy Natalia Kristiani (STUDENT ID : Desynataliakristiani26@gmail.c)
Eka Pramyrtha (LECTURER ID : .)
Ivonne Soeliono (LECTURER ID : ..)
Subject
Pharmacy
Datestamp
2021-02-16 02:43:16
Abstract :
Studi antidiabetes praklinik umumnya menggunakan model hewan dengan induksi agen sitotoksik, seperti streptozotosin (STZ). Namun pada penelitian sebelumnya terdapat rentang dosis STZ yang berbeda (35-80 mg/kg) dan rute pemberian yang berbeda (intraperitoneal atau intravena). Penelitian ini bertujuan untuk menentukan dosis STZ per intravena yang optimal untuk induksi diabetes tipe 1 pada tikus. Enam puluh tikus Wistar jantan (150-200 g) menjalani tes toleransi glukosa oral (TTGO) untuk diperiksa status homeostasis glukosanya. Seminggu kemudian semua tikus dipuasakan selama 8 jam dan dibagi menjadi enam kelompok: STZ 40, 50, 60, 70, 80 mg/kg dan kontrol. Kadar glukosa darah puasa (GDP) diukur pada hari ke-3, 7, 14, dan 21 setelah pemberian STZ dan dianalisis menggunakan uji Kruskal-Wallis. Pada hari ke-21 semua tikus dikorbankan, dan pankreasnya diambil untuk pemeriksaan histopatologi. Tiga hari setelah pemberian STZ terdapat peningkatan KGDP yang signifikan pada semua kelompok dosis STZ, kecuali pada kelompok 40 mg/kg (p <0,05). Pada hari ke-7, peningkatan GDP bertahan pada kelompok dosis 50, 60 dan 70 mg/kg. Pada hari ke-14 dan 21, GDP seluruh tikus mengalami penurunan menjadi <200 mg/dL. Pemeriksaan histologi menunjukkan bahwa dosis STZ yang lebih tinggi menghasilkan diameter pulau Langerhans yang lebih kecil. Tingkat keberhasilan induksi tertinggi, 50%, terjadi pada kelompok STZ 50. Dosis optimal STZ untuk menginduksi diabetes tipe 1 pada tikus Wistar jantan adalah 50 mg/kg. Pada dosis ini hiperglikemia menetap selama tujuh hari dan mortalitasnya minimal.