Institusion
Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya
Author
Leonardus Satrio Priambodo (STUDENT ID : s4trioleonardus@gmail.com)
Agustinus Pratisto Trinarso (LECTURER ID : 0715027002)
Subject
Philosophy
Datestamp
2021-09-09 07:52:13
Abstract :
Eksistensialisme sebagai salah satu dari gerakan Filsafat Barat, salah satunya mengkaji permenungan mengenai absurditas. Absurditas merupakan situasi
di mana dunia hadir tanpa makna dan nalar manusia tidak mampu menemukan kejelasan di tengah dunia yang penuh dengan kontradiksi, ketidakpastian,
keterasingan dan penderitaan. Camus mengajukan sebuah pertanyaan yang
dianggapnya sebagai pertanyaan yang mendesak untuk dijawab yakni mengenai
bunuh diri. Akan tetapi, Camus menolak bunuh diri sebagai keputusan yang otentik.
Di tengah situasi absurditas semacam itu, sikap apa yang dapat ditawarkan ketika
dunia tidak lagi bermakna dan penuh dengan kontradiksi ini? Albert Camus, salah
seorang filsuf eksistensialis, melalui gagasan eksistensialismenya, mengajukan
sebuah sikap yang otentik untuk tetap bahagia di tengah situasi absurditas. Adapun tujuan penulisan karya tulis ini adalah untuk mengupas gagasan
eksistensialisme Albert Camus dalam buku Mite Sisifus. Jenis data yang digunakan untuk mengerjakan karya tulis ini adalah penelitian kualitatif di mana diperoleh
melalui studi pustaka. Jenis penelitian yang dipilih oleh penulis adalah refleksi
filosofis pemikiran filsuf. Metode penelitian yang digunakan penulis dalam karya
tulis ini adalah metode interpretasi, kesinambungan historis dan holistika. Dari hasil penelitian, penulis menemukan bahwa gagasan eksistensialisme
Albert Camus tidak terlepas dengan perasaan absurditas sebagai permasalahan
eksistensialismenya. Absurditas adalah
titik awal menuju gagasan
eksistensialismenya yang ditunjukkan melalui tiga sikap manusia absurd yang
menentang sikap bunuh diri, baik bunuh diri fisik maupun bunuh diri filosofis. Tiga
manusia ini adalah tokoh yang Camus gambarkan sebagai tawaran bersikap secara
otentik yang hidup di tengah-tengah absurditas. Kesamaan sikap yang dimiliki oleh
tiga manusia absurd itu disebut sebagai pemberontakan. Pemberontakan adalah
sikap manusia absurd yang hidup tanpa harapan pada yang transenden dan hidup
pada apa yang dijalani di dunia saat ini.