Abstract :
Beberapa contoh dari norma sosial ini adalah seperti peraturan untuk tidak
bersuara berisik saat menonton bioskop, dan perilaku-perilaku tertentu di jalan
raya. Norma lain yang tidak tertulis antara lain adalah jangan berdiri terlalu dekat
dengan orang asing. Tanpa memedulikan apakah norma sosial itu bersifat eksplisit
atau implisit namun satu kenyataan tampak dengan jelas, yaitu sebagian besar
orang mematuhi norma-norma tersebut hampir setiap saat.
Awalnya, kecenderungan yang kuat terhadap konformitas ini dimana
individu mengikuti harapan masyarakat atau kelompok mengenai bagaimana
seharusnya bertindak di berbagai situasi membuat dengan secara sengaja
menghindari kekacauan sosial.
Ada beberapa alasan yang dapat dikedepankan untuk memahami mengapa
individu melakukan konformitas. Alasan-alasan tersebut adalah keinginan untuk
disukai teman. Sebagai akibat internalisasi dan proses belajar di masa kecil maka
banyak individu melakukan konformitas untuk membantunya mendapatkan
persetujuan dengan banyak orang. Persetujuan diperlukan agar individu
mendapatkan pujian. Oleh karena pada dasarnya banyak orang senang akan pujian maka banyak orang berusaha untuk conform dengan keadaan. Konformitas
penting dilakukan agar individu mendapatkan penerimaan dari kelompok atau
lingkungan tertentu. Jika individu memiliki pandangan dan perilaku yang berbeda
maka dirinya akan dianggap bukan termasuk dari anggota kelompok dan
lingkungan tersebut.
Banyak keadaan menyebabkan individu berada dalam posisi yang
dilematis. Karena tidak mampu mengambil keputusan Jika ada orang lain dalam
kelompok atau kelompok ternyata mampu mengambil keputusan yang dirasa
benar maka dirinya akan ikut serta agar dianggap benar. Banyak individu berpikir
melakukan konformitas adalah konsekuensi kognitif akan keanggotaan mereka
terhadap kelompok dan lingkungan di mana mereka berada.
Anak-anak SMK PAB 12 Saentis mengikuti kelakuan teman sebayanya
diduga karena adanya kontrol diri yang lemah dan konformitas yang
diterjemahkan dengan lebih arah negatif. Artinya, ketika ingin diakui oleh teman
sebagai kelompok sebaya yang utuh, harus mau dan berani ikut dengan kelakuan
teman.Misalnya saja, mau menghasut teman, mendorong teman, dan sebagainya.
Anak remaja yang labil bingung menilai mana yang benar dan salah dalam
bersikap. Kurang mempertimbangkan banyak hal sebelum bertindak.