Abstract :
Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Batu Bara khususnya di Kecamatan
Air Putih, Kecamatan Sei Suka dan Kecamatan Lima Puluh, penelitian
dilakukan
dari bulan Pebruari sampai bulan Maret 2012 secara deskriptif
kuantitatif
dengan metode wawancara di pandu dengan kuisioner. Responden
terdiri dari 26
Petani produsen, 26 Pedagang pengumpul, 18 Pedagang Pengecer.
Kabupaten
Batu Bara merupakan daerah potensial untuk pengembangan
komoditi cabe
merah dengan produktivitas rata-rata 9,757 ton perhektar.
Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah: teori
pemasaran,
efesiensi pemasaran, biaya pemasaran, saluran pemasaran, marjin
pemasaran
dan teori lain yang mendukung.
Hasil penelitian menyatakan bahwa: 1) Saluran 3 mempunyai
marjin
pemasaran paling rendah yaitu Rp. 4500. 2) Margin pemasaran
lebih kecil diperoleh dari perbedaan harga yang kecil antara harga tingkat petani dan harga
tingkat pengecer (harga beli konsumen). Hal ini menunjukkan saluran
3 lebih
efesien jika dibandingkan dengan saluran 1, 2 dan 4. Tetapi jika
dilihat jumlah
petani cabai merah yang memilih menggunakan saluran 3 lebih
rendah dari
saluran 1 dan 2. Jadi secara operasional saluran 3 belum tentu
lebih efesien
karena hanya digunakan oleh 18,57 % petani sedangkan saluran 1
sebesar 42,85% dan saluran 2 sebesar 25,71 %. Dimasa yang akan datang
jika jumlah
pedagang pengumpul yang ikut berpartisipasi di saluran 3 semakin
banyak tidak
tertutup kemungkinan pilihan petani cabai merah di Kabupaten Batu
Bara akan
beralih dari saluran 1 dan 2 menjadi pengguna saluran 3.
Peran stake holder untuk meningkatkan pendapatan petani melalui jalur
pemasaran efesiensi sangat dibutuhkan. Diperlukan usaha pemerintah untuk
meningkatkan pengetahuan petani tentang teknologi pengolahan agar dalam
jangka panjang petani mampu mengolah produksi cabai merah dalam bentuk
industri rumah tangga yang menghasilkan.