Abstract :
Berdasarkan hasil penelitian pendahuluan yang penulis
lakukan maka masalah yang dtemukan dirumuskan sebagai
berikut : ''Sampai sejauh manakah Pengendalian Modal Kerja yang
dilakukan pada PT. Karya Putra Utama".
Sedangkan Hipotesis penulis sebagai berikut : "Apabila pengendalian
modal kerja dilakukan dengan baik maka perusahaan akan dapat
mencapai tujuan yang diharapkan".
Adapun kesimpulan penulis adalah sebagai berikut :
1. Keadaan modal kerja perusahaan pada tahun 2000 cukup baik yaitu sebesar
Rp. 2.632.509.000,- yaitu sebesar 63,98 % dari jumlah aktiva lancar. Tetapi pada
tahun 2001 modal kerja perusahaan mengalami penurunan yaitu hanya sebesar
Rp. 2.542.200,- yaitu sebesar 54,55 % dari aktiva lancar. Jumlah penurunan
modal kerja pada tahun 2001 adalah sebesar Rp. 90.309.000,-. 3. Berdasarkan jumlah sumber dan penggunaan tersebut, maka terlihat bahwa
sumber modal kerja sebesar Rp. 121.012.000,- tidak mampu menutupi
penggunaan modal kerja sebesar Rp. 211.321.000,- sehingga terjadi penurunan
modal kerja sebesar Rp. 90.309.000,-
Penurunan modal kerja sebesar tersebut disebabkan karena pembayaran cicilan
hutang jangka panjang cukup besar jumlahnya. Sedangkan laba perusahaan yang
diperoleh pada tahun 2000 tersebut tidak cukup membayar keperluan tersebut.
4. Kebijaksanaan perusahaan melakukan pembelian kendraan dan inventaris kantor
dengan menggunakan akumulasi penyusutan cukup bijaksana. Peruntukan dana
akumulasi penyusutan memang harus untuk keperluan tersebut.
5. Likuiditas perusahaan pada tahun 2000 dan tahun 2001 menurut pandangan
kreditur cukup baik, yaitu pada tahun 2000 current ratio sebesar 278 %. Namun
pada tahun 2001 jumlah tersebut malah menurun hingga menjadi 220 %.
Menurut pandangan para pemilik modal, tahun 1999 perusahaan belum
mendaya gunakan aktiva lancar secara efektif. Current ratio pada tahun 2001
sudah lebih baik dari tahun 2000.
6. Kemampuan perusahaan membayar hutang jangka pendek yang segera harus
dipenuhi dilihat dari current ratio memang cukup baik. Tetapi dilihat dari quick
ratio yaitu kemampuan membayar dengan menggunakan alat yang paling likuid,
pada tahun 2000 dan 2001 perusahaan berada dalam keadaan likuid, Quick ratio
perusahaan berada dibawah 100 %. Pada tahun 2000 hanya sebesar 83 % saja,
sedangkan pada tahun 2001 hanya sebesar 65 %. Quick ratio perusahaan pada
tahun 2000 adalah lebih jelek dari pada tahun 2001.
7. Kebijakan perusahaan di dalam mengendalikan piutang pada tahun 2000 dan
2001 dipandang kurang baik. Hal ini dapat dilihat dari jumlah perputaran
piutang yang terjadi pada tahun 1999 hanya sebanyak 2,6 x setahun atau jangka
waktu pengumpulan piutang sekitar 130 hari. Pada tahun 2001 frekuensi .
perputaran piutang tersebut tidak berubah.