DETAIL DOCUMENT
Kajian Perbandingan Usahatani Padi Organik SRI (System of Rice Intensification) dan Padi Anorganik di Kabupaten Luwu Timur (Studi Kasus Kecamatan Wasuponda, Kabupaten Luwu Timur, Provinsi Sulawesi Selatan).
Total View This Week0
Institusion
Universitas Muslim Indonesia
Author
Nadia Rachma Kurniawati, Nadia Rachma Kurniawati
Subject
S Agriculture (General) 
Datestamp
2025-07-08 03:35:49 
Abstract :
Pembangunan pertanian merupakan bagian pembangunan ekonomi masyarakat secara umum. Pembangunan pertanian memberikan sumbangan kepada masyarakat serta menjamin bahwa pembangunan yang menyeluruh itu mencakup penduduk yang hidup dari hasil bertani. Padi (Oryza sativa) merupakan jenis tanaman yang diunggulkan pemerintah dalam upaya peningkatan produksi dan swasembada pangan. Hal ini juga tampak dari upaya pemerintah Kabupaten Luwu Timur yang berusaha keras mewujudkan system perekonomian dengan mengandalkan potensi lokal daerah, dan pengembangan pertanian berkelanjutan melalui pengembangan padi organik di semua wilayah di Luwu Timur yang bekerja sama dengan PT. Vale dan Asosiasi Masyarakat Organik Luwu Timur. Tujuan penelitian yaitu (1) Mendeskripsikan proses produksi usahatani padi organik metode SRI dan anorganik, (2) Mengalisis perbandingan produksi dan produktivitas yang digunakan antara usahatani padi organik metode SRI dan anorganik, (3) Menganalisis perbandingan biaya produksi, penerimaan dan pendapatan usahatani padi organik metode SRI dan anorganik, (4) Mengalisis kelayakan usahatani padi organik metode SRI dan anorganik. Penelitian dilaksanakan dalam waktu 1 bulan pada bulan September sampai Oktober 2024 di Kecamatan Wasuponda, Kabupaten Luwu Timur. Populasi dalam penelitian ini adalah berdasarkan informasi yang diperoleh dari PPL yaitu jumlah penduduk Desa Wasuponda yang bekerja sebagai petani organik SRI 30 orang dan jumlah penduduk Desa Wasuponda 1.009 orang petani Anorganik. Sampel dalam penelitian ini adalah 30 orang petani padi organik SRI dilakukan dengan metode sensus dan 30 petani padi Anorganik berdasarkan perhitungan menggunakan metode simple random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, (1) Proses produksi usahatani padi organik SRI dan anorganik di Kecamatan Wasuponda, Kabupaten Luwu Timur memiliki jumlah output berbeda yang diperoleh dalam proses produksi dan petani menjalankan usahatani dengan tahapan terdiri dari pengolahan lahan, penyemaian, penanaman, pemeliharaan dan panen. (2) Perbandingan produksi menunjukkan jumlah maksimum output yang dapat diproduksi apabila sejumlah input yang tertentu dipergunakan pada proses produksi dan produktivitas pada padi organik SRI memiliki tingkat yang cukup rendah dan padi anorganik berada pada klasifikasi tinggi. (3) Perbandingan biaya produksi usahtani padi organik metode SRI dan anorganik terdapat perbedaan biaya usahatani yang signifikan dikarenakan penggunaan tenaga kerja, biaya pupuk, dan biaya pestisida petani organik lebih tinggi dibandingkan petani anorganik, pada pendapatan usahatani padi organik metode SRI dan anorganik menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pendapatan yang signifikan dikarenakan jumlah produksi dan harga jual beras organik SRI yang lebih besar dengan penggunaan benih yang sedikit di bandingkan padi anorganik harga jual beras lebih kecil dengan penggunaan benih yang banyak, rata-rata hasil produksi usahatani padi organik yang telah menjadi beras sebesar 2.267 kg/Ha dengan rata-rata harga jual beras organik SRI sebesar Rp. 25.000,-/kg, sedangkan rata-rata hasil produksi dari padi anorganik yang telah menjadi beras sebesar 2.558 kg/Ha dengan rata-rata harga jual beras anorganik sebesar Rp. 13.000,-/kg penerimaan rata-rata perhektar usahatani padi organik lebih besar dari padi anorganik dan penerimaan padi organik perhektarnya sebesar Rp. 55.612.500,-, sedangkan untuk rata-rata penerimaan perhektar produksi beras anorganik sebesar Rp. 33.507.500,-. (4) Kelayakan usahatani padi organik metode SRI dan anorganik di Kecamatan Wasuponda, Kabupaten Luwu Timur menunjukkan bahwa dalam 1 ha nilai R/C ratio padi organik sebesar 2,5 artinya setiap petani organik SRI mengeluarkan biaya Rp. 1,- petani akan mendapatkan penerimaan sebesar Rp. 2,5,- per hektar, sedangkan untuk usahatani anorganik nilai R/C ratio sebesar 1,8 yang artinya setiap biaya yang dikeluarkan petani sebesar Rp. 1,- petani akan mendapatkan penerimaan sebesar Rp. 1,8,- per hektar 

Institution Info

Universitas Muslim Indonesia