Abstract :
Gula aren merupakan salah satu produk agroindustri yang bernilai ekonomi
tinggi dan potensial dikembangkan sebagai pemanis alami . Namun, rantai nilai
gula aren di Indonesia, termasuk di Kota Makassar, masih menghadapi tantangan
seperti metode produksi tradisional, distribusi yang tidak efisien, dan ketimpangan
nilai tambah antar pelaku. Celebes Farm sebagai produsen gula aren lokal
mengalami hambatan dalam pengadaan bahan baku, distribusi, dan pencapaian
efisiensi usaha, sehingga diperlukan analisis mendalam terhadap kinerja rantai
nilainya.
Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Mengetahui proses produksi gula aren
(batok, bubuk, cair). (2) Menganalisis rantai nilai. (3) Mengukur efisiensi kinerja
rantai nilai pada usaha Celebes Farm di Kota Makassar. Metode yang digunakan
adalah pendekatan kuantitatif dengan teknik analisis Data Envelopment Analysis
(DEA) untuk mengevaluasi efisiensi masing-masing pelaku dalam rantai nilai, yaitu
petani, pengepul, perusahaan, dan cafe sebagai Decision Making Unit (DMU).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penelitian ini menghasilkan tiga
temuan utama yang sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan. Pertama, proses
produksi gula aren di Celebes Farm dilakukan secara bertahap, mulai dari
penyadapan nira pohon aren oleh petani, penyaringan dan pemasakan, lalu
pengolahan menjadi tiga bentuk produk: gula batok yang dicetak dan didinginkan,
gula cair yang dipanaskan ulang dan disterilisasi, serta gula bubuk yang
dikristalkan, dikeringkan, dan digiling sebelum dikemas. Setiap jenis produk
memiliki tahapan khusus sesuai karakteristiknya. Kedua, rantai nilai produk gula
aren melibatkan empat aktor utama yaitu petani, pengepul, perusahaan (Celebes
Farm), dan cafe atau konsumen akhir. Rantai nilai melibatkan empat aktor utama,
yaitu petani, pengepul, Celebes Farm, dan café, dengan nilai tambah tertinggi
diperoleh petani (92%) karena penggunaan bahan baku sendiri, sementara pengepul
mencatat nilai terendah (25%) karena minim pengolahan. Celebes Farm
menghasilkan nilai tambah terbesar secara nominal dari produk bubuk, namun
efisiensinya sedang (40%) akibat tingginya biaya produksi, sedangkan café
menunjukkan efisiensi tinggi (77%) dari produk siap saji. Ketiga, hasil analisis
efisiensi menggunakan metode Data Envelopment Analysis (DEA) menunjukkan
bahwa semua pelaku mendapatkan skor efisiensi teknis sebesar 1, namun masih
ditemukan slack terutama pada petani dan pengepul. Hal ini mengindikasikan
bahwa efisiensi operasional belum tercapai sepenuhnya. Selain itu, sebagian besar
pelaku berada pada kondisi decreasing returns to scale, menandakan bahwa
peningkatan input belum sebanding dengan output yang dihasilkan. Oleh karena
itu, diperlukan peningkatan koordinasi antar pelaku, efisiensi penggunaan sumber
daya, serta perbaikan dalam sistem distribusi untuk mendukung keberlanjutan dan
daya saing industri gula aren secara menyeluruh