DETAIL DOCUMENT
Analisis Efisiensi Rantai Nilai (Value Chain) Gula Aren pada Usaha Celebes Farm di Kota Makassar (Studi Kasus pada Usaha Celebes Farm)
Total View This Week0
Institusion
Universitas Muslim Indonesia
Author
Rosantika, Rosantika
Subject
S Agriculture (General) 
Datestamp
2025-07-28 06:40:07 
Abstract :
Gula aren merupakan salah satu produk agroindustri yang bernilai ekonomi tinggi dan potensial dikembangkan sebagai pemanis alami . Namun, rantai nilai gula aren di Indonesia, termasuk di Kota Makassar, masih menghadapi tantangan seperti metode produksi tradisional, distribusi yang tidak efisien, dan ketimpangan nilai tambah antar pelaku. Celebes Farm sebagai produsen gula aren lokal mengalami hambatan dalam pengadaan bahan baku, distribusi, dan pencapaian efisiensi usaha, sehingga diperlukan analisis mendalam terhadap kinerja rantai nilainya. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Mengetahui proses produksi gula aren (batok, bubuk, cair). (2) Menganalisis rantai nilai. (3) Mengukur efisiensi kinerja rantai nilai pada usaha Celebes Farm di Kota Makassar. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan teknik analisis Data Envelopment Analysis (DEA) untuk mengevaluasi efisiensi masing-masing pelaku dalam rantai nilai, yaitu petani, pengepul, perusahaan, dan cafe sebagai Decision Making Unit (DMU). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penelitian ini menghasilkan tiga temuan utama yang sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan. Pertama, proses produksi gula aren di Celebes Farm dilakukan secara bertahap, mulai dari penyadapan nira pohon aren oleh petani, penyaringan dan pemasakan, lalu pengolahan menjadi tiga bentuk produk: gula batok yang dicetak dan didinginkan, gula cair yang dipanaskan ulang dan disterilisasi, serta gula bubuk yang dikristalkan, dikeringkan, dan digiling sebelum dikemas. Setiap jenis produk memiliki tahapan khusus sesuai karakteristiknya. Kedua, rantai nilai produk gula aren melibatkan empat aktor utama yaitu petani, pengepul, perusahaan (Celebes Farm), dan cafe atau konsumen akhir. Rantai nilai melibatkan empat aktor utama, yaitu petani, pengepul, Celebes Farm, dan café, dengan nilai tambah tertinggi diperoleh petani (92%) karena penggunaan bahan baku sendiri, sementara pengepul mencatat nilai terendah (25%) karena minim pengolahan. Celebes Farm menghasilkan nilai tambah terbesar secara nominal dari produk bubuk, namun efisiensinya sedang (40%) akibat tingginya biaya produksi, sedangkan café menunjukkan efisiensi tinggi (77%) dari produk siap saji. Ketiga, hasil analisis efisiensi menggunakan metode Data Envelopment Analysis (DEA) menunjukkan bahwa semua pelaku mendapatkan skor efisiensi teknis sebesar 1, namun masih ditemukan slack terutama pada petani dan pengepul. Hal ini mengindikasikan bahwa efisiensi operasional belum tercapai sepenuhnya. Selain itu, sebagian besar pelaku berada pada kondisi decreasing returns to scale, menandakan bahwa peningkatan input belum sebanding dengan output yang dihasilkan. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan koordinasi antar pelaku, efisiensi penggunaan sumber daya, serta perbaikan dalam sistem distribusi untuk mendukung keberlanjutan dan daya saing industri gula aren secara menyeluruh 

Institution Info

Universitas Muslim Indonesia