Institusion
Universitas Muslim Indonesia
Author
Reski Wahyuni, Reski Wahyuni
Subject
S Agriculture (General)
Datestamp
2025-08-14 02:39:44
Abstract :
Perkebunan karet berperan penting bagi ekonomi pedesaan, termasuk di
Kabupaten Bulukumba. Namun, petani karet menghadapi tantangan seperti harga
yang tidak stabil, biaya tinggi, dan terbatasnya akses pasar dan teknologi. Kondisi
ini dapat memengaruhi pendapatan dan kesejahteraan mereka.
Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengidentifikasi jumlah produksi karet
di Desa Bontominasa, Kecamatan Bulukumpa, Kabupaten Bulukumba. (2)
Menganalisis pendapatan petani karet di Desa Bontominasa. (3) Menganalisis total
pendapatan rumahtangga petani karet di Desa Bontominasa. (4) Menganalisis pola
konsumsi rumahtangga petani karet di Desa Bontominasa. (5) Menganalisis Nilai
Tukar Petani (NTP) dan Nilai Tukar Petani Rumahtangga (NTPRP) karet di Desa
Bontominasa. (6) Menganalisis Tingkat kesejahteraan rumahtangga petani karet di
Desa Bontominasa. Populasi dalam penelitian ini sejumlah 120 orang petani,
Adapun metode penentuan sampel yaitu menggunakan metode sensus yaitu seluruh
populasi dijadikan responden. Metode pengumpulan data melalui wawancara
menggunakan kuesioner, serta analisis data menggunakan analisis Deskriptif
Kuantitatif, Analisis pendapatan, proporsi pola konsumsi, analisis NTP, NTPRP dan
Tingkat kesejahteraan berdasarkan konsumsi setara beras
Hasil Penelitian (1) rata-rata produksi getah karet petani di Desa
Bontominasa tergolong rendah, yakni hanya 0,356 ton/bulan, dengan produktivitas
rata-rata 0,296 ton/ha. (2) Pendapatan bersih petani karet di Desa Bontominasa,
sebesar Rp48.357.188 pertahun menunjukkan bahwa usaha tani karet masih
menguntungkan. (3) Pendapatan Total Rumahtangga, total pendapatan
rumahtangga petani berasal dari berbagai sumber, termasuk usahatani karet,
pekerjaan sampingan, pekerjaan istri, dan anak. totalnya mencapai Rp 99.920.335
per tahun. (4) Rata-rata pengeluaran rumah tangga petani karet di Desa
Bontominasa untuk konsumsi non pangan Rp7.730.000 sedikit lebih tinggi
dibandingkan konsumsi pangan Rp7.657.000. Proporsi konsumsi non pangan 50%
sedikit lebih besar dari proporsi konsumsi pangan dengan nilai 49%. (5) Nilai
Tukar Petani (NTP) dan Nilai Tukar Pendapatan Rumahtangga Petani (NTPRP),
NTP sebesar 3,067 dan NTPRP sebesar 3,207. Hal ini menandakan bahwa petani
mengalami surplus. (6) Tingkat Kesejahteraan Petani Karet, dengan indikator skala
beras sebesar 3.331 kg/kapita/tahun, rumah tangga petani dikategorikan "hidup
layak"