DETAIL DOCUMENT
Analisis Rantai Pasok (Supply chain) Pemasaran Biji Kakao Di Desa Ujung Baru, Kecamatan Tomoni, Kabupaten Luwu Timur
Total View This Week0
Institusion
Universitas Muslim Indonesia
Author
Istiqoma Dewinta Badawi, Istiqoma Dewinta Badawi
Subject
S Agriculture (General) 
Datestamp
2025-08-20 04:56:52 
Abstract :
Kakao merupakan komoditas unggulan Indonesia yang berkontribusi besar terhadap ekspor dan ekonomi lokal. Namun, rantai pasok kakao masih menghadapi masalah seperti dominasi perantara, lemahnya posisi tawar petani, serta fluktuasi produksi dan luas lahan. Kondisi ini menyebabkan efisiensi rendah dan ketimpangan distribusi keuntungan. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Mendeskripsikan rantai pasok (aliran produk, aliran keuangan, aliran informasi) biji kakao di Desa Ujung Baru, Kecamatan Tomoni, Kabupaten Luwu Timur. (2) Menganalisis efisiensi pemasaran biji kakao menggunakan kriteria marjin pemasaran, Farmer’s share, dan rasio keuntungan (3) Menganalisis dominasi pelaku rantai pasok biji kakao. Populasi dari penelitian ini adalah petani kakao berjumlah 120 orang dengan penentuan sampel menggunakan metode sensus yaitu seluruh populasi petani menjadi objek penelitian, penentuan sampel lembaga pemasaran menggunakan metode snowball sampling. Metode analisis data yang digunakan analisis deskriptif aliran rantai pasok (aliran produk, aliran keuangan, aliran informasi), efisiensi pemasaran menggunakan indikator (margin pemasaran, farmer’s share, rasio keuntungan), analisis dominasi Indeks Monopoli (MPI). Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Rantai pasok pemasaran biji kakao di Desa Ujung Baru memiliki dua jalur distribusi terdiri dua jalur utama, yakni Saluran 1 (Petani → Pedagang besar → Eksportir) dan Saluran 2 (Petani → Pengumpul → Pedagang besar → Eksportir). Rantai pasok kakao di Desa Ujung Baru meliputi aliran produk, aliran uang, dan aliran informasi. Aliran produk Petani menjual biji kakao setengah kering langsung ke Pedagang besar atau lewat pengumpul. Aliran Keuangan Pembayaran umumnya dilakukan tunai dari Pedagang besar/pengumpul ke petani, kecuali eksportir yang menggunakan transfer. Petani menjual dengan harga rendah karena mutu belum optimal dan butuh uang cepat. Aliran Informasi yaitu informasi pasar, harga, dan kualitas disampaikan dari eksportir ke petani melalui Pedagang besar, sementara informasi panen dari petani dikirim balik ke Pedagang besar hingga ke eksportir, baik langsung maupun lewat media sosial. (2) Efisiensi Pemasaran biji kakao di Desa Ujung Baru tergolong efisien, terutama pada Saluran 1 yang memiliki jalur distribusi lebih pendek. Hal ini dibuktikan dengan marjin pemasaran yang cukup tinggi, rasio keuntungan yang besar (4,02), serta biaya pemasaran yang tetap rendah. nilai farmer’s share tetap tinggi dan stabil pada kedua saluran (89,1%). Namun, efisiensi operasional lebih terlihat pada Saluran 1 karena mampu menghasilkan laba lebih tinggi per biaya yang dikeluarkan. (3) Dominasi Pelaku Pemasaran di Desa Ujung Baru tergolong kuat, ditunjukkan oleh nilai Indeks Monopoli (MPI) seluruh pelaku yang melebihi 1, artinya keuntungan yang diperoleh lebih besar dari biaya pemasaran. Pelaku dengan dominasi tertinggi adalah Pedagang besar 1 (MPI = 4,60), yang menunjukkan posisi strategis dalam rantai pasok dan kemampuan menetapkan harga jual lebih tinggi karena berada paling dekat dengan eksportir 

Institution Info

Universitas Muslim Indonesia