Abstract :
PT Perkebunan Nusantara (PTPN) adalah BUMN yang bertugas mengelola
perkebunan di Indonesia. Seperti perusahaan pada umumnya, PTPN bertujuan
untuk memperoleh keuntungan maksimal dengan menekan biaya serendah
mungkin demi kelangsungan dan keberlanjutan usaha. Dalam dunia bisnis,
keuangan merupakan aspek penting yang harus dikelola dengan hati-hati untuk
menghadapi persaingan dan menjaga kelangsungan usaha. Kondisi keuangan yang
baik mencerminkan kinerja perusahaan yang baik, sehingga analisis keuangan yang
tepat sangat diperlukan
Penelitian ini bertujuan (1) Mendeskripsikan unit produksi yang dikelola (2)
Menganalisis necara keuangan dalam 3 tahun terakhir (3) Mengevaluasi laporan
laba rugi dalam 3 tahun terakhir (4) Menganalisis kinerja keuangan berdasarkan
KEPMEN BUMN No 100/MBU/2002. Sampel atau informan dalam penelitian ini
ditentukan secara sengaja (purposive), yaitu pegawai atau staf yang bekerja pada
bagian keuangan di PT Perkebunan Nusantara XIV. Metode analisis yang
digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif dan analisis rasio
keuangan yang terdiri dari rasio likuiditas, rasio solvabilitas, dan rasio profitabilitas.
Hasil penelitian menunjukkan (1) Perkebunan Nusantara XIV mengelola
12unit produksi utama yang tersebar di Sulawesi dan Indonesia Timur, mencakup
kebun, pabrik, dan unit diversifikasi. Komoditas utama yang dikelola meliputi
kelapa sawit (Luwu Timur, Enrekang, Malili, dan Konawe), tebu (Bone dan
Takalar), karet (Pulau Seram dan Morowali), kelapa (Pulau Seram dan Halmahera),
serta peternakan sapi di Ranch Kabaru, Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. (2)
Neraca keuangan adalah laporan akuntansi yang menunjukkan posisi keuangan
perusahaan pada periode tertentu, terdiri dari aset, kewajiban, dan ekuitas. Total
aset PT Perkebunan Nusantara XIV sempat naik pada 2021, namun turun di 2022.
Aset lancar juga menurun, mengindikasikan melemahnya likuiditas jangka pendek.
Liabilitas PT Perkebunan Nusantara XIV naik tiap tahun, didominasi liabilitas
jangka panjang. Liabilitas jangka pendek sempat turun, namun kembali meningkat
di 2022. Ekuitas PT Perkebunan Nusantara XIV terus memburuk dari negatif
Rp1,02 triliun (2020) menjadi negatif Rp1,81 triliun (2022), seiring tren kerugian
berkelanjutan dan penurunan pendapatan dari Rp851,37 miliar menjadi Rp649,50
miliar, dengan beban pokok pendapatan tetap tinggi. Laba bruto sempat turun pada
2021, lalu naik tajam pada 2022, tetapi tidak mampu menutup beban operasional
lainnya. Rugi usaha membesar dari Rp42,87 miliar (2020) menjadi Rp250,33 miliar
(2022), ditambah beban keuangan sekitar Rp180–220 miliar tiap tahun. Rugi
sebelum pajak mencapai Rp429,83 miliar pada 2022, dan rugi komprehensif terus
meningkat hingga Rp428,13 miliar, mayoritas ditanggung oleh entitas induk. (4)
Rasio lancar PT Perkebunan Nusantara XIV terus menurun hingga 6,01% pada
2022, jauh di bawah standar. Kondisi ini mencerminkan likuiditas yang lemah dan
ketidakmampuan memenuhi kewajiban jangka pendek, sehingga dinyatakan Tidak
Sehat selama tiga tahun berturut-turut. Rasio kas PT Perkebunan Nusantara XIV
tetap di bawah standar sehat selama 2020–2022, turun drastis menjadi 0,35% pada
2022. Nilai ini jauh dari batas minimal 50%, sehingga perusahaan mendapat skor 0
dan dikategorikan "Tidak Sehat. Rasio solvabilitas PT Perkebunan Nusantara XIV
meningkat dari 40,98% (2020) menjadi 70,74% (2022), namun skor kesehatan
menurun dari 9 menjadi 7,5, dan status berubah menjadi "Cukup Sehat". Kenaikan
rasio ini tidak sepenuhnya mencerminkan perbaikan struktur modal, karena bisa
disebabkan oleh tingginya utang atau penurunan aset. Return Of Equity (ROE)
berada pada kisaran rendah, yaitu 0,24%–0,40% selama 2020–2022. Meskipun
sempat naik pada 2021, nilainya tetap tergolong sangat rendah dan mendapat skor
2, yang dikategorikan "Tidak Sehat" Return on Investment (ROI) PT Perkebunan
Nusantara XIV selama 2020–2022 berada pada kisaran sangat rendah, yakni 0,10%
hingga 0,17%. Meskipun sempat meningkat, nilainya tetap jauh di bawah standar
sehat menurut Kepmen BUMN, sehingga memperoleh skor 2 dan dikategorikan
"Tidak Sehat”. Secara keseluruhan, kinerja keuangan PT Perkebunan Nusantara
XIV masih kurang sehat. Hal ini tercermin dari skor current ratio dan cash ratio
yang tetap 0 selama 2020–2022, menunjukkan ketidakmampuan perusahaan
memenuhi kewajiban jangka pendeknya.