Institusion
Universitas Muslim Indonesia
Author
Amelia Windayanti, Amelia Windayanti
Subject
S Agriculture (General)
Datestamp
2025-08-20 05:01:37
Abstract :
Padi adalah tanaman pangan penting kedua di dunia setelah gandum, dan menjadi
makanan pokok utama di Indonesia karena menghasilkan beras. Beras sulit digantikan oleh
bahan pokok lain bagi sebagian besar masyarakat. Beras adalah sumber karbohidrat utama bagi
masyarakat Indonesia yang cepat diubah menjadi energi. Padi sebagai tanaman pangan,
dikonsumsi oleh sekitar 90% penduduk Indonesia sebagai makanan pokok sehari-hari.
Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengidentifikasi jumlah produksi usahatani padi
yang menggunakan mesin Combine Harvester & Non Combine Harvester di Desa
Indumakkombong, Kecamatan Matakali, Kabupaten Polewali Mandar. (2) Menganalisis
pendapatan usahatani padi menggunakan Combine Harvester & Non Combine Harvester. (3)
Menganalisis kelayakan usahatani padi menggunakan Combine Harvester & Non Combine
Harvester. (4) Menganalisis risiko produksi usahatani padi menggunakan Combine Harvester
& Non Combine Harvester. Penelitian dilaksanakan di Desa Indomakkombong, Kecamatan
Matakali, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Populasi dalam penelitian ini adalah
petani yang menggunakan Combine Harvester sebanyak 146 orang dan non Combine
Harvester sebanyak 573 orang. Penarikan sampel dilakukan secara purposive sampling dengan
menggunakan 25% pengguna Combine Harvester & Non Combine Harvester mengikuti
jumlah pengguna Combine Harvester sehingga jumlah sampel sebanyak 74 orang. Analisis
data meliputi analisis deskriptif, analisis pendapatan, analisis kelayakan dan analisis risiko
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) produksi usahatani padi menggunakan
Combine Harvester rata-rata per petani. Rata-rata produksi per petani naik dari panen Combine
Harvester mampu meningkatkan efisiensi dan mengurangi kehilangan hasil panen. (2)
pendapatan petani meningkat secara signifikan setelah menggunakan teknologi Combine
Harvester. Pendapatan rata-rata per petani meningkat dari Rp19.266.128 menjadi
Rp28.042.297, sedangkan pendapatan per hektar meningkat dari Rp11.845.182 menjadi
Rp19.391.000. Peningkatan pendapatan ini terjadi karena meningkatnya jumlah produksi dan
efisiensi dalam panen. (3) nilai R/C ratio menggunakan Combine Harvester adalah 0,67,
sedangkan Non Combine Harvester turun menjadi 0,56. Penurunan nilai R/C ratio ini
menunjukkan bahwa meskipun pendapatan meningkat, tingginya biaya tetap dari penggunaan
Combine Harvester menyebabkan usahatani menjadi kurang layak secara ekonomi
dibandingkan sebelumnya. (4) risiko produksi diukur dengan koefisien variasi (CV).
menggunakan Combine Harvester, nilai CV sebesar 0,67, dan Non Combine Harvester nilai
CV sedikit menurun menjadi 0,56. Kedua nilai CV ini tetap berada dalam kategori risiko
rendah, menunjukkan bahwa penggunaan teknologi Combine Harvester tidak secara signifikan
mengurangi risiko produksi.