DETAIL DOCUMENT
Analisis Biaya, Produksi dan Pendapatan Usahatani Cabai Rawit (Capsicum Frutences) pada Musim Kemarau dan Musim Hujan di Kecamatan Sanrobone, Kabupaten Takalar
Total View This Week0
Institusion
Universitas Muslim Indonesia
Author
Karisma Nur Asidiq, Karisma Nur Asidiq
Subject
S Agriculture (General) 
Datestamp
2025-08-20 05:02:08 
Abstract :
Karena cabai adalah tanaman yang tumbuh baik di dataran rendah maupun dataran tinggi, cabai merupakan sayuran kebun dengan nilai ekonomi tinggi dan daya adaptasi yang tinggi. Cabai merah adalah produk yang berpotensi untuk dikembangkan karena tingginya permintaan terhadap produk tersebut secara berkelanjutan. Salah satu tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan penjelasan mengenai teknik budidaya cabai rawit yang diterapkan kepada karyawan Distrik Sanrobone (Kabupaten Takalar). 2) Pembayaran biaya untuk pembelian bahan baku selama periode waktu antara musim hujan atau kemarau. Penentuan jumlah yang diproduksi dan penelitian hasil budidaya cabai rawit pada musim hujan dan kemarau. Ini poin ketiga. 4) Penelitian tentang konsep budidaya cabai rawit selama periode waktu antara musim hujan dan musim kemarau. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Sanrobone, Kabupaten Takalar. Menurut Kantor Distrik Sanrobone pada tahun 2024, penduduk negara tersebut terdiri dari 170 orang yang dianggap sebagai rawit. Pemilihan sampel dilakukan secara selektif dengan mengutamakan petani yang bertanggung jawab mengirimkan bahan baku baik saat musim hujan maupun kemarau. Selama dua minggu yang dimaksud, terdapat total enam puluh tiga petani yang mampu menghasilkan cabai rawit, yang sesuai dengan ukuran sampel enam puluh tiga. Penelitian ini akan dilakukan mulai bulan Maret hingga bulan Juli 2025. Sebagai hasilnya, fakta-fakta berikut disajikan: 1) Teknik budidaya yang diterapkan oleh staf Kecamatan Sanrobone pada dini hari dan sore hari adalah teknik yang menekankan pentingnya biji cabai rawit serta pemupukan dan penanaman. Tanaman cabai rawit perlu dikonsumsi, didistribusikan dari gulma, disiram, dan dikonsumsi. 2) Biaya total untuk budidaya cabai rawit pada musim kemarau mencapai 4.202.097 Rupiah per petani per tahun dan 6.692.772 Rupiah per hektar per tahun, sedangkan pada musim hujan mencapai 4.389.797 Rupiah per petani per tahun dan 7.001.772 Rupiah per hektar per tahun. Pada bulan Mei, jumlah uang yang diterima oleh pemilik hewan peliharaan adalah 89.602.098 Rupiah per pemilik hewan peliharaan, yang setara dengan 146.692.772 Rupiah per hektar. Selama bulan Januari, petani menerima total 64.080.000 Rupiah per petani, yang setara dengan 98.058.228 Rupiah per hektar. Pada awal bulan, rasio R/C ditetapkan pada 20,32, sedangkan pada akhir bulan, ditetapkan pada 14,59. 

Institution Info

Universitas Muslim Indonesia