Abstract :
Dari laporan WHO menguraikan bila populasi didunia yang
berpotensi mengidap penyakit DBD hampir 2,5 miliar khususnya
diwilayah subtropis, tropis atau perkotaan. Sekarang ini diprediksi
terdapat 390 juta infeksi didunia pertahunnya.
Studi ini berjenis observasional analitik yang menerapkan
rangkaian cross-sectional study. Total sampelnya sejumlah 103
partisipan yang ada di Puskesmas Totoli Kab Majene. Lalu akan
diterapkan kuesioner sebagai instrumentnya. Dari hasil analisis
univariat, dominan partisipan ada dikisaran umur 30–39 tahun (64,1%)
serta berpendidikan tinggi, dengan 49,5% lulusan S1. Studi ini
menghasilkan bila mayoritas partisipan tidak mempunyai tempat
penampungan air (TPA) disekitaran rumahnya (74,8%), tetapi 38%
berkebiasaan menggantungkan pakaiannya dirumah, yang diketahui
bisa menjadi sarang nyamuk Aedes aegypti. Sebanyak 10,7% rumah
tangga berada dalam kondisi berisiko sebagai media transmisi
penyakit, dan sebanyak 75,7% responden berada dalam kategori
berisiko mengalami DBD.
Analisis Jalur menghasilkan ada kaitan antar kepemilikan
breeding place dengan kepadatan hunian dan kebiasaan
menggantung pakaian. Selain itu, kepadatan hunian juga
berpengaruh terhadap kebiasaan menggantung pakaian. Analisis
multivariat menggunakan pendekatan path analysis menunjukkan
bahwa variabel-variabel seperti breeding place, kepadatan hunian,
kebiasaan menggantung pakaian, dan media transmisi penyakit baik
dengan langsung atau tidak berkontribusi pada kejadian DBD.
Temuan ini menunjukkan bahwa faktor lingkungan dan perilaku
masyarakat, khususnya terkait kebersihan, kepadatan tempat tinggal,
serta kebiasaan sehari-hari seperti menggantung pakaian, sangat
memengaruhi risiko terjadinya DBD. Disarankan untuk setiap warga di
Puskesmas Totoli untuk rutin melakukan gerakan PSN 4M Plus.