Abstract :
Diabetes melitus merupakan suatu penyakit kronis yang terjadi akibat
gangguan metabolisme tubuh, ditandai dengan peningkatan kadar gula darah
sebagai akibat dari ketidakseimbangan produksi atau fungsi hormon insulin.
Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini dapat menimbulkan komplikasi
serius seperti kerusakan pada ginjal, sistem saraf, jantung, dan mata. Sebagai
bagian dari kelompok penyakit tidak menular (PTM), diabetes terus mengalami
peningkatan kasus secara signifikan di berbagai daerah, termasuk di wilayah
kerja Puskesmas Baras I.Data yang dihimpun menunjukkan bahwa selama
periode 2023 hingga 2025, jumlah kasus gula darah tinggi mengalami tren
kenaikan yang konsisten. Pada tahun 2023 tercatat sebanyak 410 kasus,
meningkat menjadi 480 kasus pada 2024, dan kembali melonjak menjadi 594
kasus pada tahun 2025. Peningkatan terbesar terjadi pada kelompok usia
produktif (45-54 tahun), dengan jumlah kasus terbanyak dialami oleh
perempuan, khususnya pada usia 30-45 tahun. Selain itu, terdapat kekurangan
data pada kelompok usia tertentu, seperti laki-laki usia 55–64 tahun, yang
mengindikasikan perlunya peningkatan sistem pencatatan dan pelaporan data
kesehatan.
Penelitian ini menggunakan jenis menggunakan jenis penelitian
pendekatan kuantitatif serta desain cross-sectional (Rika Widianita, 2023).
Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat yang tinggal di wilaya kerja
puskesmas baras I. Sampel dalam penelitian ini adalah warga yang ada di
dusun samonu sebanyak 96 orang. Metode analisis data menggunakan uji
bivariat dengan uji kolerasi chi-square variabel dinyatakan berhubungan
apabila nilai p-value yang diperoleh dari uji korelasi <0,05.
Berdasarkan hasil uji univariat dan bivariat, menunjukkan bahwa
terdapat 52 orang yang menderita Diabetes mellitus dan 44 yang menderita
mellitus, sebagian besar individu tergolong memiliki tingkat aktivitas sedentari
yang tinggi (48 orang), sedangkan pola makan responden relatif seimbang
antara kategori baik (51 orang) dan tidak baik (45 orang). Temuan ini
mengindikasikan bahwa perilaku kurang aktif masih mendominasi, meskipun
terdapat kecenderungan perbaikan dalam pola makan. Namun demikian,
proporsi pola makan yang tidak sehat masih cukup tinggi dan berpotensi
meningkatkan risiko terjadinya diabetes mellitus.
Berdasarkan hasil uji cis-square terdapat dalam penelitian ini yaitu
Perilaku sedentari (p=0,000), pola makan (p=0,000) dengan itu dapat di
simpulkan bahwa terdapat Hubungan Perilaku Sedentari dan Pola Makan
dengan Kejadian Diabetes Mellitus (DM) di Dusun Samonu Kelurahan Baras
Kecamatan Baras Kabupaten Pasangkayu Sulawesi Barat.
Di harapkan pada peneliti selanjutnya meneliti dapat mengembangkan
penelitian ini dengan menambahkan variabel lain, seperti faktor psikologis,
genetik, serta tingkat aktivitas fisik yang lebih spesifik, sehingga hasil penelitian
dapat memberikan gambaran yang lebih menyeluruh.