Abstract :
Perilaku sedentari atau sedentary lifestyle merupakan perilaku
dengan minimnya pengeluaran energi akibat rendahnya keterlibatan dalam
aktivitas fisik. Kondisi ini ditandai oleh kebiasaan menetap dalam posisi
duduk atau berbaring dalam waktu lama, seperti menonton televisi, bermain
gawai, bekerja di depan komputer, membaca, atau berkomunikasi pasif.
Secara fisiologis, aktivitas ini hanya membakar sekitar 1.0–1.5 METs, dan
bila berlangsung terus-menerus, kurang dari 600 METs. Contoh lainnya
termasuk duduk dalam kendaraan saat bepergian jauh, anak-anak yang
diantar ke sekolah meski jaraknya dekat, serta penggunaan mobil atau
motor untuk keperluan harian yang sebetulnya bisa dijangkau dengan
berjalan kaki. Pola ini berisiko menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan
secara keseluruhan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pola
asuh orang tua, pengetahuan, sikap remaja, paparan teknologi (seperti
penggunaan smartphone, komputer, dan media sosial), serta status
ekonomi keluarga terhadap perilaku sedentary lifestyle pada remaja.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-
sectional dan metode deskriptif analitik. Lokasi penelitian mencakup dua
sekolah, yaitu SMAN 8 Luwu Utara yang berada di pusat ibukota kabupaten
dan SMAN 19 Luwu Utara yang terletak di daerah terpencil sekitar 12 km
dari pusat kota. Populasi penelitian terdiri atas seluruh siswa SMAN 8
sebanyak 605 siswa dan SMAN 19 sebanyak 100 siswa. Pengambilan
sampel didasarkan pada rekomendasi pihak sekolah, yaitu siswa kelas XI.2,
XI.7, dan XI.9 dari SMAN 8 sebanyak 96 siswa, serta seluruh siswa SMAN
19 sejumlah 100 siswa.
Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa pada SMAN 8 Luwu Utara
terdapat hubungan antara pola asuh dengan perilaku sedentary lifestyle (p
= 0,005 < 0,05), terdapat hubungan antara pengetahuan dengan perilaku
sedentary lifestyle (p = 0,049 < 0,05), terdapat hubungan antara sikap
dengan perilaku sedentary lifestyle (p = 0,011 < 0,05), terdapat hubungan
antara paparan teknologi dengan perilaku sedentary lifestyle (p = 0,006 <
0,05), dan terdapat hubungan antara status ekonomi dengan perilaku
xiii
sedentary lifestyle (p = 0,001 < 0,05). Sedangkan pada SMAN 19 Luwu
Utara menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara pola asuh dengan
perilaku sedentary lifestyle (p = 0,035 < 0,05), terdapat hubungan antara
pengetahuan dengan perilaku sedentary lifestyle (p = 0,032 < 0,05),
terdapat hubungan antara sikap dengan perilaku sedentary lifestyle (p =
0,017 < 0,05), terdapat hubungan antara paparan teknologi dengan perilaku
sedentary lifestyle (p = 0,018 < 0,05), dan terdapat hubungan antara status
ekonomi dengan perilaku sedentary lifestyle (p = 0,015 < 0,05).
Kesimpulan dari hasil ini menunjukkan bahwa pada siswa SMAN 8
Luwu Utara dan SMAN 19 Luwu Utara, terdapat hubungan antara pola
asuh, pengetahuan, sikap, paparan teknologi, dan status ekonomi terhadap
perilaku sedentary lifestyle. Diharapkan para siswa dapat meningkatkan
kesadaran akan pentingnya menjalani gaya hidup aktif dengan membatasi
penggunaan teknologi secara berlebihan, membentuk sikap positif
terhadap aktivitas fisik, serta mendapatkan dukungan dari pola asuh
keluarga yang mendorong kebiasaan aktif sejak dini. Hal ini penting untuk
mencegah dampak negatif dari perilaku sedentari terhadap kesehatan fisik
dan mental remaja.