DETAIL DOCUMENT
PENGARUH PEMBERIAN KAPSUL JAHE, SERAI, CENGKEH (JASEKEH) DAN EDUKASI DIABETES DALAM MEMBANTU PENURUNAN KADAR GLUKOSA DARAH DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KASSI KASSI KOTA MAKASSAR
Total View This Week0
Institusion
Universitas Muslim Indonesia
Author
Faisa, Nur
Subject
RA Public aspects of medicine 
Datestamp
2025-11-28 02:00:14 
Abstract :
Penyakit Tidak Menular (PTM) atau Non-Communicable Disease (NCD) adalah penyakit yang tidak menular antar individu dan berkembang perlahan dalam jangka panjang. Contohnya meliputi penyakit kardiovaskular, diabetes melitus, kanker, dan gangguan pernapasan, yang kini menjadi penyebab utama kematian dan kecacatan di seluruh dunia. Diabetes melitus merupakan salah satu penyakit tidak menular utama yang menjadi penyebab kematian global. Penyakit ini berkontribusi besar terhadap kasus kebutaan, penyakit jantung, gagal ginjal, dan prevalensinya terus meningkat setiap tahunya. Salah satu penyakit tidak menular yang menjadi penyebab utama kematian pada dunia adalah penyakit diabetes melitus. Diabetes melitus adalah penyakit yang ditandai dengan meningkatnya kadar glukosa darah (hiperglikemia) yang terjadi akibat tubuh kekurangan hormon insulin baik absolut maupun relatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian kapsul JaSeKeh (jahe, serai, cengkeh) dan edukasi diabetes dalam membantu penurunan kadar glukosa darah di wilayah kerja Puskesmas Kassi-Kassi, Kota Makassar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode true experiment dan desain pretest-posttest with control group. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh individu yang relevan dengan topik penelitian, sementara sampel terdiri dari 30 orang dengan kondisi pre-diabetes (GDP 100–125 mg/dl) yang berada di wilayah kerja Puskesmas Kassi-Kassi. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Analisis data dilakukan melalui uji normalitas dan uji paired t-test dengan tingkat signifikansi 95% (p = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan kadar glukosa darah sebelum dan setelah intervensi. Pada kelompok intervensi JaSeKeh xvii sebelum intervensi rata rata penurunan kadar glukosa darah responden adalah sebesar 115 mg/dl, sedangkan setelah intervensi menurun menjadi 94 mg/dl, dengan demikian rata-rata penurunan kadar glukosa darah sebesar 21 mg/dl. Kelompok intervensi edukasi diabetes sebelum intervensi rata rata penurunan kadar glukosa darah responden adalah sebesar 110 mg/dl, sedangkan setelah intervensi menurun menjadi 103 mg/dl, dengan demikian rata-rata penurunan kadar glukosa darah sebesar 7 mg/dl. Hasil uji statistic menggunakan Statictial Product and Service Sciences (SPSS) menunjukkan bahwa pemeriksaan kadar glukosa darah puasa yang dianalisis melalui uji normalitas dan dilanjutkan dengan uji t berpasangan (paired t-test) karena hasil uji normalitas menunjukkan bahwa data berdistribusi nomal. Uji paired simple t-test memberikan hasil yang signifikan. Pemberian kapsul JaSeKeh menunjukkan pengaruh terhadap penurunan kadar glukosa darah dengan p-value = 0,000 (< 0,05). Sementara itu, intervensi berupa edukasi juga menunjukkan pengaruh signifikan dengan p-value = 0,001 (< 0,05). Maka dapat disimpulkan bahwa baik pemberian kapsul JaSeKeh maupun edukasi diabetes berpengaruh signifikan dalam menurunkan kadar glukosa darah pada responden pre-diabetes. Intervensi kapsul JaSeKeh dengan dosis 500 mg dua kali sehari selama 14 hari menunjukkan penurunan rata-rata sebesar 21 mg/dl, sedangkan intervensi edukasi yang dilakukan sebanyak empat kali dalam 14 hari menghasilkan penurunan rata-rata sebesar 7 mg/dL. Hasil ini menunjukkan bahwa kedua intervensi efektif, dengan pengaruh lebih besar ditunjukkan oleh pemberian kapsul JaSeKeh. Penelitian ini menyarankan agar penelitian selanjutnya dilakukan dengan durasi intervensi yang lebih panjang guna mengevaluasi efek jangka panjang pemberian kapsul JaSeKeh terhadap kestabilan kadar glukosa darah. Pemantauan kadar glukosa secara berkala setiap minggu, seperti pada hari ke-7, ke-14, ke-21, dan seterusnya, juga perlu dilakukan untuk mengetahui kecepatan dan konsistensi penurunan kadar glukosa dari waktu ke waktu. Selain itu, cakupan sampel dan durasi intervensi edukasi juga perlu diperluas untuk menilai dampak jangka panjang serta mempertimbangkan pemanfaatan teknologi informasi, seperti aplikasi kesehatan digital, dalam mendukung edukasi dan pemantauan mandiri pasien. Studi kualitatif juga dapat menjadi pelengkap untuk menggali faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan edukasi. Penelitian selanjutnya juga diharapkan melibatkan responden laki-laki agar hasilnya lebih representatif terhadap populasi umum, mengingat adanya perbedaan biologis dan gaya hidup antara laki-laki dan perempuan yang dapat memengaruhi efektivitas intervensi. 

Institution Info

Universitas Muslim Indonesia