Abstract :
Penyakit Tidak Menular (PTM) atau Non-Communicable Disease
(NCD) adalah penyakit yang tidak menular antar individu dan berkembang
perlahan dalam jangka panjang. Contohnya meliputi penyakit
kardiovaskular, diabetes melitus, kanker, dan gangguan pernapasan, yang
kini menjadi penyebab utama kematian dan kecacatan di seluruh dunia.
Diabetes melitus merupakan salah satu penyakit tidak menular utama
yang menjadi penyebab kematian global. Penyakit ini berkontribusi besar
terhadap kasus kebutaan, penyakit jantung, gagal ginjal, dan
prevalensinya terus meningkat setiap tahunya. Salah satu penyakit tidak
menular yang menjadi penyebab utama kematian pada dunia adalah
penyakit diabetes melitus. Diabetes melitus adalah penyakit yang ditandai
dengan meningkatnya kadar glukosa darah (hiperglikemia) yang terjadi
akibat tubuh kekurangan hormon insulin baik absolut maupun relatif.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian
kapsul JaSeKeh (jahe, serai, cengkeh) dan edukasi diabetes dalam
membantu penurunan kadar glukosa darah di wilayah kerja Puskesmas
Kassi-Kassi, Kota Makassar. Penelitian ini menggunakan pendekatan
kuantitatif dengan metode true experiment dan desain pretest-posttest
with control group. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh individu
yang relevan dengan topik penelitian, sementara sampel terdiri dari 30
orang dengan kondisi pre-diabetes (GDP 100–125 mg/dl) yang berada di
wilayah kerja Puskesmas Kassi-Kassi. Teknik pengambilan sampel
menggunakan purposive sampling. Analisis data dilakukan melalui uji
normalitas dan uji paired t-test dengan tingkat signifikansi 95% (p = 0,05).
Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan kadar glukosa
darah sebelum dan setelah intervensi. Pada kelompok intervensi JaSeKeh
xvii
sebelum intervensi rata rata penurunan kadar glukosa darah responden
adalah sebesar 115 mg/dl, sedangkan setelah intervensi menurun menjadi
94 mg/dl, dengan demikian rata-rata penurunan kadar glukosa darah
sebesar 21 mg/dl. Kelompok intervensi edukasi diabetes sebelum
intervensi rata rata penurunan kadar glukosa darah responden adalah
sebesar 110 mg/dl, sedangkan setelah intervensi menurun menjadi 103
mg/dl, dengan demikian rata-rata penurunan kadar glukosa darah sebesar
7 mg/dl.
Hasil uji statistic menggunakan Statictial Product and Service
Sciences (SPSS) menunjukkan bahwa pemeriksaan kadar glukosa darah
puasa yang dianalisis melalui uji normalitas dan dilanjutkan dengan uji t
berpasangan (paired t-test) karena hasil uji normalitas menunjukkan
bahwa data berdistribusi nomal. Uji paired simple t-test memberikan hasil
yang signifikan. Pemberian kapsul JaSeKeh menunjukkan pengaruh
terhadap penurunan kadar glukosa darah dengan p-value = 0,000 (<
0,05). Sementara itu, intervensi berupa edukasi juga menunjukkan
pengaruh signifikan dengan p-value = 0,001 (< 0,05).
Maka dapat disimpulkan bahwa baik pemberian kapsul JaSeKeh
maupun edukasi diabetes berpengaruh signifikan dalam menurunkan
kadar glukosa darah pada responden pre-diabetes. Intervensi kapsul
JaSeKeh dengan dosis 500 mg dua kali sehari selama 14 hari
menunjukkan penurunan rata-rata sebesar 21 mg/dl, sedangkan intervensi
edukasi yang dilakukan sebanyak empat kali dalam 14 hari menghasilkan
penurunan rata-rata sebesar 7 mg/dL. Hasil ini menunjukkan bahwa
kedua intervensi efektif, dengan pengaruh lebih besar ditunjukkan oleh
pemberian kapsul JaSeKeh.
Penelitian ini menyarankan agar penelitian selanjutnya dilakukan
dengan durasi intervensi yang lebih panjang guna mengevaluasi efek
jangka panjang pemberian kapsul JaSeKeh terhadap kestabilan kadar
glukosa darah. Pemantauan kadar glukosa secara berkala setiap minggu,
seperti pada hari ke-7, ke-14, ke-21, dan seterusnya, juga perlu dilakukan
untuk mengetahui kecepatan dan konsistensi penurunan kadar glukosa
dari waktu ke waktu. Selain itu, cakupan sampel dan durasi intervensi
edukasi juga perlu diperluas untuk menilai dampak jangka panjang serta
mempertimbangkan pemanfaatan teknologi informasi, seperti aplikasi
kesehatan digital, dalam mendukung edukasi dan pemantauan mandiri
pasien. Studi kualitatif juga dapat menjadi pelengkap untuk menggali
faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan edukasi. Penelitian
selanjutnya juga diharapkan melibatkan responden laki-laki agar hasilnya
lebih representatif terhadap populasi umum, mengingat adanya
perbedaan biologis dan gaya hidup antara laki-laki dan perempuan yang
dapat memengaruhi efektivitas intervensi.