DETAIL DOCUMENT
PENGGUNAAN APLIKASI ARTIFICIAL INTELLIGENCE CREATIVE HEALTH (AICH) DALAM UPAYA PENCEGAHAN STUNTING BERBASIS TEORI HEALTH BELIEF MODEL PADA KADER POSYANDU DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MARUSU
Total View This Week0
Institusion
Universitas Muslim Indonesia
Author
MUHAMMAD, SYABANIA HASANA
Subject
RA Public aspects of medicine 
Datestamp
2026-02-13 01:36:15 
Abstract :
Health Belief Model (HBM) adalah salah satu teori yang paling banyak digunakan dalam penelitian kesehatan masyarakat untuk memahami dan memprediksi perilaku kesehatan individu. Dikembangkan pada tahun 1950-an oleh psikolog sosial Godfrey Hochbaum, Irwin Rosenstock, dan Stephen Kegels, teori ini menjelaskan bagaimana persepsi individu terhadap ancaman penyakit dan manfaat tindakan pencegahan memengaruhi keputusan mereka untuk berperilaku sehat. Health Belief Model adalah sebuah konsep yang mengungkapkan alasan mengapa individu ingin atau tidak melakukan perilaku sehat (Janz & Becker, 1984). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku kader Posyandu dalam menggunakan aplikasi Artificial Intelligence Creative Health (AICH) sebagai upaya pencegahan stunting berdasarkan Teori Health Belief Model (HBM). Latar belakang studi ini mencerminkan kekhawatiran atas tingginya angka stunting, khususnya di Kecamatan Marusu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Peran kader Posyandu dinilai penting dalam deteksi dini stunting, namun seringkali terbatas oleh minimnya pelatihan, alat bantu teknologi, serta kepercayaan diri. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif, melibatkan 22 kader Posyandu sebagai sampel dari 123 kader yang tersebar di 22 posyandu. Instrumen pengumpulan data berupa kuesioner yang mengukur enam komponen HBM: perceived susceptibility, perceived severity, perceived benefits, perceived barriers, cues to action, dan self-efficacy. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan aplikasi AICH berkontribusi positif terhadap pemahaman kader mengenai risiko dan dampak stunting, serta meningkatkan motivasi mereka dalam upaya pencegahan. AICH menyediakan fitur edukasi digital, chatbot kesehatan, dan pencatatan data yang ii mempermudah tugas kader. Meski demikian, tantangan seperti keterbatasan literasi digital dan akses teknologi tetap menjadi hambatan utama. Kesimpulannya, aplikasi AICH mampu menjadi alat bantu efektif bagi kader Posyandu dalam meningkatkan efektivitas promosi kesehatan, terutama jika didukung pelatihan berkelanjutan dan intervensi berbasis teori perilaku. Penelitian ini merekomendasikan pemanfaatan teknologi berbasis AI sebagai strategi inovatif untuk menurunkan angka stunting secara nasional. 

Institution Info

Universitas Muslim Indonesia