Abstract :
Apendisitis merupakan peradangan pada apendiks yang
memerlukan tindakan pembedahan (apendiktomi) dan sering menimbulkan nyeri
akut pascaoperasi. Nyeri yang tidak tertangani dengan baik dapat menghambat
mobilisasi dan memperlambat penyembuhan. Salah satu terapi nonfarmakologis
yang efektif untuk mengatasi nyeri adalah aromaterapi lavender, yang
mengandung senyawa linalool dan linalyl asetat dengan efek menenangkan,
relaksasi, serta analgesik.
Tujuan: Mengetahui efektivitas penerapan aromaterapi lavender terhadap
penurunan nyeri akut pada klien post operasi apendiktomi di RSUD Labuang Baji
Makassar.
Metode: Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan
proses keperawatan. Intervensi dilakukan melalui pemberian aromaterapi lavender
dengan metode inhalasi selama 10–15 menit, dua kali sehari. Pengukuran tingkat
nyeri dilakukan menggunakan Numeric Rating Scale (NRS) sebelum dan sesudah
intervensi untuk menilai perubahan intensitas nyeri.
Kesimpulan: Hasil penerapan menunjukkan penurunan skala nyeri dari 6
(sedang) menjadi 3 (ringan) setelah pemberian aromaterapi lavender. Pasien
tampak lebih rileks, nyaman, dan mampu beristirahat dengan baik. Hal ini
membuktikan bahwa aromaterapi lavender efektif sebagai terapi komplementer
nonfarmakologis dalam menurunkan nyeri akut pada pasien post operasi
apendiktomi serta dapat mendukung proses penyembuhan dan meningkatkan
kualitas asuhan keperawatan.
Appendicitis is an inflammation of the appendix that requires
surgical intervention (appendectomy) and often causes acute postoperative pain.
Uncontrolled pain can hinder mobilization and delay recovery. One of the
effective non-pharmacological therapies to reduce pain is lavender
aromatherapy, which contains linalool and linalyl acetate compounds that have
calming, relaxing, and analgesic effects.
Objective: To determine the effectiveness of lavender aromatherapy in reducing
acute pain among post-appendectomy clients at Labuang Baji Hospital
Makassar.
Method: This study used a case study method with a nursing process approach.
The intervention was carried out by administering lavender aromatherapy through
inhalation for 10–15 minutes, twice daily. Pain intensity was measured using the
Numeric Rating Scale (NRS) before and after the intervention to assess changes
in pain level.
Conclusion: The results showed a decrease in pain score from 6 (moderate) to
3 (mild) after lavender aromatherapy administration. The patient appeared more
relaxed, comfortable, and able to rest well. This proves that lavender
aromatherapy is effective as a complementary non-pharmacological therapy in
reducing acute pain among post-appendectomy patients and supports the
improvement of nursing care quality and recovery process.