DETAIL DOCUMENT
PENGARUH PEMANTAUAN TEKANAN INTRAKRANIAL TERHADAP PENINGKATAN PERFUSI SEREBRAL PADA PASIEN NON HEMORAGIC STROKE DI RUANG IGD RSUD LABUANG BAJI MAKASSAR
Total View This Week0
Institusion
Universitas Muslim Indonesia
Author
LUKU, MOH. AKRAM
Subject
RT Nursing 
Datestamp
2026-02-13 01:41:26 
Abstract :
Stroke non-hemoragik berisiko meningkatkan tekanan intrakranial (TIK) yang dapat menurunkan perfusi serebral dan memperburuk luaran. Tujuan: Mendeskripsikan pengaruh pemantauan TIK dan intervensi posisi terhadap perfusi serebral pada pasien stroke non-hemoragik fase akut di IGD. Metode: Laporan kasus pasien dewasa dengan diagnosis stroke non-hemoragik. Data diperoleh melalui pengkajian primer–sekunder, pemeriksaan penunjang (CT-scan, EKG, dan laboratorium), serta observasi serial parameter neurologis (GCS, pupil), hemodinamik (MAP), respirasi (SpO₂), dan tanda bahaya TIK. Intervensi keperawatan mengacu SLKI–SIKI: posisi head-up 30°, meminimalkan stimulus lingkungan, pemantauan neurologis terstruktur, optimasi oksigenasi, pencegahan komplikasi, dan kolaborasi terapi medis. Hasil: Pemantauan TIK yang sistematis memfasilitasi deteksi dini perburukan dan keputusan klinis cepat. Penerapan head-up 30° dan lingkungan tenang membantu mempertahankan oksigenasi serta stabilitas hemodinamik; selama periode observasi tidak tampak penurunan GCS akut, MAP tetap dalam target, dan tujuan jangka pendek (stabilitas respirasi dan hemodinamik) tercapai. Kesimpulan: Pada fase akut stroke non-hemoragik, pemantauan TIK terstruktur yang dipadukan dengan intervensi nonfarmakologis—khususnya head-up 30°—dan optimasi oksigenasi berkontribusi mempertahankan perfusi serebral dan meningkatkan keselamatan. Disarankan penerapan protokol pemantauan standar di IGD untuk mempercepat pengambilan keputusan dan meningkatkan luaran. Non-hemorrhagic stroke can elevate intracranial pressure (ICP), compromising cerebral perfusion and clinical outcomes. Objective: To describe the effect of structured ICP monitoring and positioning on cerebral perfusion during the acute phase in the emergency department (ED). Methods: Case report of an adult with non-hemorrhagic stroke. Data were collected via primary–secondary assessment, ancillary tests (CT scan, ECG, laboratory), and serial observations of neurologic (GCS, pupils), hemodynamic (MAP), and respiratory (SpO₂) parameters, including ICP red-flags. Nursing interventions followed Indonesian SLKI– SIKI: 30° head-up positioning, environmental stimulus minimization, structured neurologic checks, oxygenation optimization, complication prevention, and collaborative medical therapy. Results: Systematic ICP monitoring enabled early recognition of deterioration and timely decisions. Implementing a 30° head-up position within a calm environment supported oxygenation and hemodynamic stability; no acute GCS decline was observed during the observation window, MAP remained on target, and short-term goals (respiratory and hemodynamic stability) were achieved. Conclusions: In acute non-hemorrhagic stroke, structured ICP monitoring combined with non-pharmacologic measures—particularly 30° head-up— and oxygenation optimization helps maintain cerebral perfusion and enhances patient safety. Adoption of standardized ED monitoring protocols is recommended to accelerate decision-making and improve outcomes. 

Institution Info

Universitas Muslim Indonesia