Abstract :
Diabetic Foot Ulcer (DFU) merupakan komplikasi serius
pada pasien diabetes melitus yang sering menghambat proses penyembuhan
akibat infeksi, neuropati, dan gangguan vaskular. Pengelolaan luka yang
tepat sangat penting untuk mencegah progresivitas luka dan komplikasi
lanjutan seperti amputasi. Metode absorbent wound healing, khususnya
menggunakan balutan Hydrofiber, menawarkan pendekatan efektif dalam
mengelola eksudat dan menciptakan lingkungan luka yang optimal untuk
penyembuhan.
Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan
perawatan luka menggunakan metode absorbent wound healing pada pasien
dengan DFU melalui pendekatan asuhan keperawatan.
Metode : Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus dengan
metode asuhan keperawatan yang meliputi pengkajian menggunakan
instrumen Bates-Jensen Wound Assessment Tool (BJWAT), perumusan
diagnosa keperawatan, perencanaan intervensi berbasis Standar Intervensi
Keperawatan Indonesia (SIKI), implementasi perawatan luka menggunakan
Hydrofiber sebagai primary dressing, serta evaluasi hasil intervensi selama
periode perawatan di Praktik Mandiri Griya Afiat Kota Makassar.
Hasil : Hasl penelitian menunjukkan setelah intervensi, terjadi perubahan
positif pada karakteristik luka, yaitu perubahan tipe eksudat dari purulen
menjadi serosanguinous, penurunan jumlah eksudat dari banyak menjadi
moderat, serta dominasi jaringan granulasi sehat (>75%), meskipun
epitelisasi masih minimal dan infeksi belum sepenuhnya teratasi.
Kesimpulan : Penerapan metode absorbent wound healing dengan balutan
Hydrofiber dalam asuhan keperawatan menunjukkan respons positif terhadap
proses penyembuhan luka DFU, khususnya dalam pengelolaan eksudat dan
stimulasi granulasi, namun memerlukan waktu dan intervensi lanjutan untuk
mengatasi infeksi secara tuntas.
Diabetic Foot Ulcer (DFU) is a serious complication in patients
with diabetes mellitus, often impeding wound healing due to infection,
neuropathy, and vascular impairment. Appropriate wound management is
crucial to prevent wound progression and further complications such as
amputation. The absorbent wound healing method particularly using
Hydrofiber dressings offers an effective approach for managing wound
exudate and creating an optimal wound environment conducive to healing.
Objective : This study aimed to examine the effect of applying wound care
using the absorbent wound healing method in DFU patients through a nursing
care approach.
Method : A case study design was employed, integrating a structured nursing
care process: assessment using the Bates-Jensen Wound Assessment Tool
(BJWAT), formulation of nursing diagnoses, planning of interventions based
on the Indonesian Nursing Intervention Standards (SIKI), implementation of
wound care using Hydrofiber as the primary dressing, and evaluation of
intervention outcomes over the treatment period at Griya Afiat Independent
Nursing Practice in Makassar City.
Result : Results showed positive wound changes following the intervention:
exudate type shifted from purulent to serosanguinous, exudate volume
decreased from heavy to moderate, and healthy granulation tissue became
predominant (>75% coverage), although epithelialization remained minimal
and infection was not yet fully resolved.
Conclusion : The application of the absorbent wound healing method using
Hydrofiber dressings within the nursing care framework demonstrated a
positive response in DFU wound healing especially in exudate management
and granulation tissue stimulation yet required additional time and continued
interventions to fully eradicate infection.