Abstract :
Limbah pertambangan adalah suatu barang yang disisakan dari suatu proses
pertambangan salah satu contohnya adalah tailing yang merupakan limbah hasil
pengolahan mineral tambang. Tailing adalah bahan yang tertinggal setelah
pemisahan fraksi bernilai bijih yang dihasilkan dari kegiatan pertambangan.
Tailing hasil pengolahan bijih emas berpotensi mencemari lingkungan jika
tidak dilakukan pengelolaan yang baik. Salah satu upaya pengelolaan yang dapat
dilakukan adalah dengan memanfaatkan kembali (reuse) tailing tersebut. Dengan
tekstur dan karakteristiknya maka tailing dapat digunakan sebagai bahan tambahan
pada produk beton. Pada penelitian ini tailing akan dimanfaatkan kembali untuk
pembuatan batako dengan menggunakan beberapa komposisi prosentase tailing.
Pemanfaatan tailing pada penelitian ini digunakan juga sebagai subtitusi
penggunaan pasir.
Dari hasil uji kuat tekan pada umur batako 7 hari yang disajikan pada tabel 4.5-
tabel 4-8 terlihat bahwa rata-rata kuat uji tekan batako normal sebesar 105,4 kg/ cm².
Hasil uji tekan pada batako tailing memperlihatkan hasil berupa kurva dimana pada batako
tailing dengan prosentase 15% memberikan hasil uji kuat tekan sebesar 86,6 kg/ cm²
kemudian mengalami peningkatan untuk batako tailing dengan prosentase 30% tailing
(122,3 kg/ cm²). Nilai uji kuat tekan menurun ke angka 75,4 kg/cm² untuk batako dengan
prosentase 50% tailing.
Hal ini menunjukkan bahwa nilai optimum pengurangan pasir pada batako tailing adalah
pada prosentase 30% yang memberikan nilai kuat uji tekan lebih besar dari batako normal.
Hasil dan tren pengujian yang sama diperoleh juga pada pengujian batako tailing umur 14
hari, dimana batako tailing dengan prosentase 30% memberikan nilai uji kuat tekan
tertinggi dengan nilai 115, 2 kg/cm².
Kata kunci: Tailing, Batako, Kuat Uji Tekan, Sekotong