Abstract :
Lereng adalah suatu bidang di permukaan tanah yang menghubungkan permukaan tanah yang lebih tinggi dengan permukaan tanah yang lebih rendah. Lereng dapat terbentuk secara alami dan dapat juga dibuat oleh manusia. ( DAS 1994).
Dalam penelitian ini metode yang digunakan terdiri dari 3 (tiga) tahap yaitu, pra lapangan, lapangan, dan pasca lapangan. Tahap pra lapangan meliputi pengumpulan data studi literatur dan interpretasi data sekunder. Tahap lapangan meliputi penyondiran dan sampel tanah . Tahap pasca lapangan meliputi analisis laboratorium. Untuk melakukan analisis stabilitas lereng digunakan program SLIDE 6.0.
Berdasarkan hasil analisis kesetabilan lereng tunggal pada jenjang 20 meter setengah jenuh dengan sudut 60°. Nilai (FK) dari Clay a (1.409 ), nilai (FK) dari Sand (2,016), nilai (FK) dari Clay b (3,664), nilai (FK) dari Clay c (3,208), dan (FK) dari Mixing undistrub (2,165). Lereng tunggal dengan jenjang 25 meter kondisi setengah jenuh sudut 60°. Nilai (FK) dari Clay a (1,238), nilai (FK) dari Sand (1,828), nilai (FK) Clay b (2,233), nilai (FK) dari clay c (2,885), dan nilai (FK) dari Mixing undistrub (1,922). Lereng tunggal dengan tinggi 20 meter kering dengan sudut 65°. Nilai (FK) dari Clay a (1,343), nilai (FK) dari Sand (1,876), niali (FK) dari Clay b (2,312), nilai (FK) dari Clay c (2,985), dan nilai (FK) drai Mixing undistrub (1,937). Lereng tunggal dengan tinggi 25 meter kering dengan sudut 65°. Nilai (FK) dari Clay a (1,200), nilai (FK) dari Sand (1,688), nilai (FK) dari Clay b (2,091), nilai (FK) Clay c (2,703), dan niali (FK) dari Mixing undistrub (1,761). Berdasarkan hasil analisis lereng keseluruhan disposal pada tinggi 35 meter dengan sudut 29° pada kondisi setengah jenuh dan kering dalam kondisi aman dengan nilai FK 1,811 yang setengah jenuh dan nilai FK 2,902 kering (FK > 1,300).
Kata kunci: penyondiran ,lerengtunggal, lereng keseluruhan,
, faktor keamanan.