Abstract :
Jalan raya adalah jalur-jalur tanah di atas permukaan bumi yang sengaja dibuat oleh manusia dengan bentuk, ukuran-ukuran dan konstruksinya sehingga dapat digunakan untuk menyalurkan lalu lintas orang, hewan dan kendaraan yang
mengangkut barang-barang dari tempat yang satu ke tempat yang lainnya dengan cepat dan mudah. Jalan raya terdiri dari 4 lapisan yang bersusun, yaitu Lapis Pondasi Bawah (Subbase Course), Lapis Pondasi Atas (Base Course), Lapis Antara
(Binder Course), dan Lapis Aus (Wearing Course). Asphalt Concrete Wearing Course (AC-WC) atau biasa dikenal Lapisan Aus merupakan jenis Lapisan Aspal Beton (LASTON) dan juga lapis paling atas yang ada pada perkerasan jalan raya. Lapisan ini berfungsi sebagai penahan beban roda kendaraan sehingga rentan terjadinya kerusakan yang dapat disebabkan oleh beban yang terlalu berlebih atau pada campurannya. Kerusakan jalan dapat disebabkan oleh beberapa faktor,
diantaranya air, perubahan suhu, cuaca, temperatur udara, material konstruksi perkerasan, kondisi tanah dasar yang tidak stabil, proses pemadatan di atas lapisan tanah dasar yang kurang baik dan tonase atau muatan kendaraan-kendaraan berat yang melebihi kapasitas serta volume kendaraan yang semakin meningkat. Oleh Karena itu, perlu dikaji tentang pengaruh suhu terhadap Nilai Karakteristik Marshall.
Dari hasil percobaan yang dilakukan bahwa nilai kadar aspal optimum (KAO) yang digunakan adalah kadar aspal 6,1%. Variasi suhu yang digunakan pada penelitian ini adalah 140?C, 145?C, 150?C, 155?C, 160?C, 165?C, 170?C dan 175?C karena pada pekerjaan di lapangan variasi suhu tersebut sering ditemukan namun tetap digunakan walaupun sudah tidak sesuai dengan standar suhu pencampuran pada Spesifikasi Bina Marga Tahun 2018 yaitu pada suhu 155?C maupun
pemadatan yaitu 125?C-145?C.
Dari hasil pengujian didapatkan Nilai stabilitas optimum pada variasi suhu 155?C, Sedangkan nilai minimum terdapat pada variasi suhu 170?C, nilai flow menunjukkan seiring bertambahnya suhu semakin tinggi nilai flow, nilai marshall
quotient optimum pada variasi suhu 155?C sebesar 494 Kg/mm, sedangkan nilai minimum terdapat pada variasi suhu 165?C sebesar 277 Kg/mm, nilai VMA optimum terdapat pada suhu 175 ?C sebesar 22,12 %, sedangkan nilai minimum terdapat pada suhu 145 ?C sebesar 11,81 %, nilai VIM tertinggi terdapat pada suhu 175 ?C sebesar 13,64 %, sedangkan nilai minimum terdapat pada suhu 145 ?C sebesar 2,22 %, dan nilai VFA tertinggi terdapat pada suhu 145?C sebesar 81,23 %, sedangkan nilai minimum terdapat pada suhu 175?C sebesar 38,32 %.