Abstract :
Saat ini, Provinsi Nusa Tenggara Barat merupakan salah satu provinsi yang menghasilkan jagung cukup banyak. Dari tahun ke tahun, luas lahan dan jumlah produksi jagung di Nusa Tenggara Barat semakin meningkat. Harga jual jagung terkadang tidak stabil, namun petani di Nusa Tenggara Barat semakin banyak menanam jagung. Tahun ini harga Jagung di Nusa Tenggara Barat mulai tidak stabil. Salah satu faktor yang mempengaruhi ketidakstabilan harga jagung adalah adanya pergeseran pola tanam di tingkat petani. Sekarang sudah ada petani yang menanam dua kali. Perhatikan ke depannya apakah luas tanam ini terus bertambah yang artinya menandakan petani sudah menanam dua kali dalam setahun. Jadi produksi meningkat tetapi konsumen dan harga terbatas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh luas lahan dan jumlah produksi terhadap harga jual jagung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan teknik analisis data menggunakan regresi linier berganda. Sumber data dari Badan Pusat Statistik, Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB. Hasil yang diperoleh berdasarkan simulasi data menggunakan SPSS adalah Y = 3109,911 + 0,007X1 - 0,001X2. Hal ini menunjukkan bahwa variabel X1 sebesar 0,007 artinya setiap terjadi kenaikan variabel luas lahan sebesar 1% maka harga jualnya meningkat sebesar 0,007%. Variabel X2 adalah -0,001 maka setiap kali ada variabel kenaikan jumlah produksi sebesar 1% maka harga jualnya naik sebesar -0,001%, dengan asumsi variabel bebas lain nilainya tetap. Hipotesis dengan uji t perhitungan luas lahan adalah 1,249 yang berarti luas lahan tersebut tidak berpengaruh terhadap harga jual jagung NTB tahun 2012-2021. Pada penelitian sebelumnya dilakukan penelitian tentang pengembangan luas lahan pertanian jagung, produksi jagung, produktivitas per satuan luas lahan secara nasional yang dikaitkan dengan pertumbuhan laju penduduk, kebutuhan jagung, dan pertumbuhan impor jagung nasional.