Abstract :
Identifikasi dalam penelitian ini adalah perusahaan melakukan tindakan
pemeliharaan setelah terjadi kerusakan hal ini menyebabkan tingginya Downtime
mesin terutama mesin SLB-400 yang mengalami Downtime paling tingi selama
periode Juni 2023 ? November 2023. Perusahaan tersebut juga belum mengadopsi
metode pengukuran kerja apapun hal ini menyebabkan tidak adanya data yang
akurat untuk mengukur kinerja mesin dan peralatan produksi, akibatnya perusahan
tidak melakukan perbaikan dengan tepat sasaran.Metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah metode dengan pendekatan yang meliputi kinerja mesin atau
alat bantu yang dipakai pada proses produksi, seperti Total Productive Maintenance
(TPM), Overall Equipment Effectiveness (OEE), Six Big Losses, Diagram pareto,
dan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) hasil perhitungan pada mesin SBL?400 menunjukan nilai hasil Overall Equipment Effectiveness (OEE) sebesar 69.06%
dengan nilai tertinggi ada pada bulan Juni 2023 dengan nilai 75.35%, dan nilai
terendah ada pada bulan Agustus 2023 dengan nilai 63.29% sedangkan standar nilai
OEE world class yang bisa dijadikan goal jangka panjang adalah 85%. Nilai aktual
yang terdapat pada masin SLB-400 masih jauh dibawah standar. Dengan
menerapkan perbaikan, perusahan dapat meningkatkan nilai OEE sebesar 8.12%
dari yang sebelumnya 69.06% menjadi 75.16%. peningkatan OEE tersebut dapat
dicapai dengan asumsi apabila seluruh perbaikan telah dilaksanakan dengan baik
oleh perusahaan.