Abstract :
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi respon kecemasan
pada pasien pre operasi katarak di Kabupaten Jember. Penelitian ini menggunakan
desain penelitian deskriptif yang disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi.
Jumlah populasi pada penelitian sebanyak 165 pasien pre operasi katarak di
Rumah Sakit dr. Soebandi, RS Balung dan RS Bina Sehat. Pengambilan sampel
sebanyak 120 pasien dengan teknik purposive sampling. Indikator respon
kecemasan pada penelitian diadopsi dari kuesioner Hamilton Anxiety Rating Scale
(HARS) yang terdiri dari 14 indikator kecemasan.
Hasil penelitian menunjukan bahwa respon kecemasan pada pasien pre
operasi katarak paling besar terjadi pada gejala somatik (otot) dimana sebanyak 44
orang (36,7%) pasien mengalami gejala somatik (otot) berat yang ditandai dengan
lebih dari separuh gejala somatik (otot) yang dialami oleh pasien pre operasi
katarak. Tingkat kecemasan yang dialami pasien pre operasi katarak sebanyak 51
orang (42,5%) pasien mengalami kecemasan ringan, 33 orang (27,5%) tidak ada
kecemasan, 32 orang (26,5%) mengalami kecemasan sedang dan 4 orang (3,3%)
mengalami kecemasan berat. Gejala somatik (otot) merupakan salah satu respon
fisik kecemasan. Gejala somatik (otot) terdiri dari sakit atau nyeri di otot - otot,
kaku, kedutan, gigi gemerutuk dan suara tidak stabil. Gejala somatik (otot) yang
sering muncul pada pasien pre operasi katarak adalah kekakuan. Kekakuan yang
terjadi pada pasien pre operasi katarak apabila tidak segera diatasi dapat
menyebabkan kelelahan dimana kelelahan dapat menimbulkan peningkatan
tekanan darah pada pasien pre operasi katarak. Peningkatan tekanan darah dapat
berdampak terhadap proses operasi salah satunya adalah operasi tidak dapat
terlaksana ata dibatalkan. Hal ini terjadi karena peningkatan tekanan darah dapat
mengganggu terhadap efek dari obat anastesi.
Kesimpulan yang dapat ditarik yaitu respon kecemasan pada pasien pre
operasi paling banyak terjadi pada gejala somatik. Tingkat kecemasan pasien pre
operasi katarak yaitu paling banyak adalah kecemasan ringan. Maka dari itu perlu
adanya suatu intervensi guna mengurangi respon kecemasan yang dialami pasien
pre operasi katarak. Intervensi yang dapat dilakukan yaitu melalui edukasi dan
terapi relaksasi otot progresif kepada pasien pre operasi katarak. Sehingga dengan
adanya penelitian ini dapat menjadi dasar dalam mengidentifikasi respon
kecemasan pada pasien pre operasi katarak.