Abstract :
Pelecehan seksual sering dianggap sebagai hal kecil, hal ini disebabkan oleh
minimnya kepedulian masyarakat terhadap isu pelecehan seksual. Sehingga
perempuan korban pelecehan seksual tidak mau berbicara. KRL Jabodetabek
merupakan salah satu ruang publik yang dapat menjadi ruang pelecehan seksual.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana persepsi perempuan terhadap
bentuk-bentuk pelecehan seksual di KRL Commuter Line dan tingkat kecemasan
pelecehan seksual yang marak terjadi di KRL Commuter Line Jabodetabek terhadap
kemampuan perempuan mengkomunikasikan pelecehan seksual yang terjadi di KRL
Commuter Line Jabodetabek. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah
komunikasi interpersonal De Vito tentang penyingkapan diri. Metode penelitian yang
digunakan adalah kuantitatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada variabel persepsi perempuan
terhadap bentuk pelecehan seksual di KRL Jabodetabek X1 diperoleh nilai H1
diterima maka terdapat pengaruh antara variabel persepsi perempuan terhadap bentuk
pelecehan seksual di KRL Jabodetabek X1 terhadap variabel tingkat kemampuan
perempuan mengkomunikasikan pelecehan seksual Y. Variabel X2 terhadap Y
memperoleh nilai H2 diterima yang artinya terdapatnya pengaruh antara tingkat
kecemasan perempuan terhadap pelecehan seksual di KRL Jabodetabek X2 terhadap
tingkat kemampuan perempuan mengkomunikasikan pelecehan seksual Y