Abstract :
SHIDDIQ. Program Studi Sains komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial, Ilmu
Politik dan Ilmu Komputer, Universitas Djuanda, 2022, Makna Unsur Prank Dalam
Adegan Film The War With Granpa Karya Tim Hill di Bioskop (Analisis Semiotika
Ferdinand De Saussure), Pembimbing I: Maria Fitriah, S.Sos., M.Si., Pembimbing
II: Agustini, Dra., M.Si. Penelitian ini difokuskan pada maraknya tayangan prank
yang muncul di televisi dan media sosial, walaupun awalnya untuk menghibur
penonton namun beberapa tayangan prank justru terkesan memberi dampak negatif
bagi masyarakat, salah satunya terjadinya peniruan prank tersebut. Terlihat dalam
data Google Trends (2020) bahwa fenomena prank mengalami peningkatan cukup
drastis. Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan adegan prank dalam film
The War With Granpa karya Tim Hill di bioskop dengan analisis sistem tanda dan
mengetahui makna unsur prank dalam adegan film The War With Granpa karya
Tim Hill di bioskop dengan analisis semiotika Ferdinand De Saussure. Metode
penelitian ini menggunakan analisis semiotika dengan pendekatan kualitatif
deskriptif. Peneliti menggunakan unit analisis sintaksis sebagai alat untuk
melakukan observasi, dalam penelitian ini yaitu frekuensi kemunculan simbol
prank dalam adegan film The War With Granpa. Teknik pengumpulan data
penelitian ini yaitu observasi, wawancara, serta studi dokumentasi. Teknik analisis
data penelitian ini yaitu pengumpulan data, data kondensasi, tampilan data, dan
penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan terdapat dua adegan prank
secara deskriptif, satu adegan faunal, lima adegan kultural, dua adegan naratif, dua
adegan normatif, dua belas adegan sosial dan tujuh adegan struktural. Sementara
itu terdapat total 22 adegan prank, terbagi menjadi empat adegan prank dalam
vii
indikator kelucuan yang tidak wajar, sembilan adegan prank dalam indikator aneh
dan sembilan adegan prank dalam indikator nyeleneh. Kesimpulan penelitian ini
yaitu beberapa adegan sudah sesuai dengan standarisasi film barat, seperti
pengaturan tata letak cahaya dan proses pemberian efek visualisasi yang realistik.
Beberapa adegan prank memiliki kecenderungan mudah ditiru karena faktor
peralatan yang mudah ditemukan dan dijangkau serta cukup berbahaya apabila
anak-anak meniru. Saran bagi produser dan sutradara film yaitu Tim Hill,
diharapkan dapat melakukan proses riset yang mendalam terlebih dahulu mengenai
dampak akibat adegan-adegan yang ditujukan khususnya untuk anak-anak yang
rentan meniru dan mencoba sesuatu yang baru. Juga untuk Lembaga Sensor Film
Republik Indonesia agar dapat mengawasi ekstra film-film yang digolongkan dalam
rating Semua Usia (SU) dan menetapkan minimal usia 12 tahun keatas untuk film
yang berpotensi berbahaya.