DETAIL DOCUMENT
MAKNA UNSUR PRANK DALAM ADEGAN FILM THE WAR WITH GRANPA KARYA TIM HILL DI BIOSKOP (ANALISIS SEMIOTIKA FERDINAND DE SAUSSURE)
Total View This Week0
Institusion
Universitas Djuanda
Author
Ahmad Siddiq, Naufal
Subject
JA Political science (General) 
Datestamp
2022-12-27 03:21:57 
Abstract :
SHIDDIQ. Program Studi Sains komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial, Ilmu Politik dan Ilmu Komputer, Universitas Djuanda, 2022, Makna Unsur Prank Dalam Adegan Film The War With Granpa Karya Tim Hill di Bioskop (Analisis Semiotika Ferdinand De Saussure), Pembimbing I: Maria Fitriah, S.Sos., M.Si., Pembimbing II: Agustini, Dra., M.Si. Penelitian ini difokuskan pada maraknya tayangan prank yang muncul di televisi dan media sosial, walaupun awalnya untuk menghibur penonton namun beberapa tayangan prank justru terkesan memberi dampak negatif bagi masyarakat, salah satunya terjadinya peniruan prank tersebut. Terlihat dalam data Google Trends (2020) bahwa fenomena prank mengalami peningkatan cukup drastis. Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan adegan prank dalam film The War With Granpa karya Tim Hill di bioskop dengan analisis sistem tanda dan mengetahui makna unsur prank dalam adegan film The War With Granpa karya Tim Hill di bioskop dengan analisis semiotika Ferdinand De Saussure. Metode penelitian ini menggunakan analisis semiotika dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Peneliti menggunakan unit analisis sintaksis sebagai alat untuk melakukan observasi, dalam penelitian ini yaitu frekuensi kemunculan simbol prank dalam adegan film The War With Granpa. Teknik pengumpulan data penelitian ini yaitu observasi, wawancara, serta studi dokumentasi. Teknik analisis data penelitian ini yaitu pengumpulan data, data kondensasi, tampilan data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan terdapat dua adegan prank secara deskriptif, satu adegan faunal, lima adegan kultural, dua adegan naratif, dua adegan normatif, dua belas adegan sosial dan tujuh adegan struktural. Sementara itu terdapat total 22 adegan prank, terbagi menjadi empat adegan prank dalam vii indikator kelucuan yang tidak wajar, sembilan adegan prank dalam indikator aneh dan sembilan adegan prank dalam indikator nyeleneh. Kesimpulan penelitian ini yaitu beberapa adegan sudah sesuai dengan standarisasi film barat, seperti pengaturan tata letak cahaya dan proses pemberian efek visualisasi yang realistik. Beberapa adegan prank memiliki kecenderungan mudah ditiru karena faktor peralatan yang mudah ditemukan dan dijangkau serta cukup berbahaya apabila anak-anak meniru. Saran bagi produser dan sutradara film yaitu Tim Hill, diharapkan dapat melakukan proses riset yang mendalam terlebih dahulu mengenai dampak akibat adegan-adegan yang ditujukan khususnya untuk anak-anak yang rentan meniru dan mencoba sesuatu yang baru. Juga untuk Lembaga Sensor Film Republik Indonesia agar dapat mengawasi ekstra film-film yang digolongkan dalam rating Semua Usia (SU) dan menetapkan minimal usia 12 tahun keatas untuk film yang berpotensi berbahaya. 
Institution Info

Universitas Djuanda