Abstract :
Penggunaan dwibahasa Indonesia dan Sunda sebagai bahasa pengantar
sering dilakukan oleh guru khususnya di sekolah dasar. Namun bahasa Sunda lebih
sering digunakan dalam proses pembelajaran di kelas III SDN Cimande 03 ini
dibandingkan menggunakan bahasa Indonesia. Hal demikian terjadi bukan karena
sekolah tersebut menjadi sekolah percontohan bahasa Sunda melainkan hal tersebut
terjadi secara alami. Penelitian ini pada dasarnya bertujuan untuk mengetahui
bagaimana penggunaan dwibahasa Sunda dan Indonesia dalam proses
pembelajaran di kelas III SDN Cimande 03. Metode penelitian yang digunakan
adalah metode penelitian kualitatif dengan jenis penelitian fenomenologi. Teknik
pengumpulan data menggunakan wawancara, dokumentasi dan observasi. Prosedur
analisis data yang digunakan yaitu analisis data Edmund Husserl diantaranya
bracketing, intuiting, analyzing dan describing. Uji keabsahan data penelitian ini
menggunakan triangulasi sumber dan perpanjangan pengamatan. Hasil penelitian
menunjukan bahwa penggunaan dwibahasa dalam proses pembelajaran sudah
dilakukan sejak lama saat awal guru mengajar, hal tersebut dilakukan sesuai dengan
kebutuhan proses pembelajaran seperti saat guru sedang menjelaskan suatu materi
yang belum dipahami siswa, siswa bertanya tentang materi pembelajaran dan saat
guru memberikan arahan kepada siswa. Adapun hal lain yang ditemui yaitu: 1)
Permasalahan yang terjadi saat penggunaan bahasa Indonesia diantaranya: a)
lingkungan siswa masih bersifat kedaerahan; b) bahasa pengantar guru; c) siswa
belum bisa menggunakan bahasa yang baik dan benar; dan d) adanya bahasa gaul.
2) Penggunaan dwibahasa memiliki makna yaitu: a) penggunaan dwibahasa
sebagai sebuah sistem; b) penggunaan dwibahasa sebagai ungkapan personal; dan
c) penggunaan dwibahasa sebagai ungkapan antarpersonal. 3) Faktor penyebab
penggunaan dwibahasa, yaitu: a) faktor internal dan b) faktor eksternal.
Kata Kunci: Bahasa Indonesia, Bahasa Sunda, Dwibahasa, Proses Pembelajaran, Siswa Kelas Rendah