Abstract :
Tahu merupakan jenis makanan yang terbuat dari kacang kedelai dengan melalui proses
penggumpalan susu kedelai. Penggunaan jenis kedelai dan jenis koagulan yang berbeda,
akan menghasilkan produk tahu dengan sifat yang berbeda dan akan berpengaruh
terhadap kualitas tahu yang dihasilkan. Salah satu bahan koagulan yang dapat
digunakan dalam proses pembuatan tahu adalah asam organik. Ragi merupakan
starter/inokulum tradisional Indonesia yang mengandung jamur, yeast, dan bakteri asam
laktat yang jika difermentasikan bersama dengan bakteri asam asetat dapat
menghasilkan asam organik yang berfungsi sebagai koagulan. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui pengaruh penggunaan koagulan hasil fermentasi kultur campuran
(ragi dan bakteri asam asetat) dalam pembuatan tahu yang ditinjau dari sifat fisik,
kimiawi, dan sensorisnya. Penelitian ini menggunakan dua jenis kedelai (kedelai impor
dan kedelai lokal) dengan empat macam perbandingan komposisi kedelai dan
menggunakan bakteri asam asetat yang dibedakan menjadi dua berdasarkan spesiesnya
(Acetobacter aceti dan Acetobacter xylinum) dalam menghasilkan koagulan, sedangkan
konsentrasi koagulan yang ditambahkan adalah sebesar 15%. Perbedaan jenis dan
komposisi kedelai berpengaruh terhadap kadar protein dan pH whey tahu serta
berpengaruh terhadap tingkat kekerasan dan kadar air tahu. Tetapi penggunaan
koagulan hasil fermentasi ragi dan bakteri asam asetat yang berbeda spesies tidak
berpengaruh nyata terhadap kadar protein dan pH whey tahu serta tingkat kekerasan
maupun kadar air tahu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar protein whey tahu
adalah berkisar antara 2,14–4,04% dengan pH antara 5,42–5,50 dan tingkat kekerasan
tahu adalah berkisar antara 0,2037–0,2408 kgf dengan kadar air antara 74,65–79,53%.
Berdasarkan hasil uji organoleptik terhadap 30 orang panelis, seluruh perlakuan sampel
tahu masih dapat diterima oleh panelis