Abstract :
Saham, sebagai salah satu instrumen yang diperdagangkan di pasar Modal,
selalu mengalami perubahan harga. Dalam konsep hipotesis pasar efisien
(Nticient Market Hypotesis), pentbahan harga saham ini bersifat acak sehingga
perubahan harga dimasa yang akan datang tidak dapat diprediksi berdasarkan
perubahan pada masa lampau. Namun demikian, banyak penelitian yang
menyebutkan adanya beberapa fen 0 men a yang tidak sesuai dengan hipotesis pasar
efisien. Salah satunya adalah fenomena pembalikan harga (price reversals).
Pembalikan harga terjadi jika perubahan harga secara ekstrim dalam satu
periode tertentll segera diikuti dengan perubahan harga kearah yang berlawanan,
kenaikan harga secara ekstrim akan segera diikuti dengan penunman harga pada
peri ode selanjutnya. Sebaliknya, penunman harga secara ekstrim diikuti oleh
kenaikan harga pada periode selanjutnya.
Untuk menjelaskan fenomena pembalikan harga, maka penelitian ini
merujuk pada hipotesis reaksi berlebih (Overreaction Hypotesis). Hipotesis reaksi
berlebih menyatakan bahwa pada dasamya investor lebih bereaksi secara
berlebihan terhadap infonnasi. Dalam hal ini pelaku pasar, cenderung menetapkan
harga terlalll tinggi sebagai reaksi terhadap infonnasi yang dinilai positif.
sebaliknya pelaku pasar akan menetapkan harga terlalu rendall sebagai reaksi
terhadap infonnasi yang dinilai negatif. Kemudian fenomena ini berbalik ketika
pelaku pasr menyadari telall bereaksi berlebihan. Pembalikan ini ditunjukkan oleh
turunnya harga (abnormal return yang negatif) setelall teIjadi kenaikan secara
ekstrim dan naiknya harga (abnormal return yang positif) setelall terjadi
penurunan secara ekstrim.
Dengan demikian, permasalahan yang diajukan dalam penelitian JIll
adalall:
1. Apakall terdapat return negatifyang signifikan setelall kejadian positif,
2. Apakall teIjadi return positifyang signifikan setelah kejadian negatif, dan
3. Apakall terdapat perbedaan yang signifikan antara return negatif dengan
return positif.
Oleh karena itu, tujuan dalam penelitian ini adalall untuk mengetallui adanya
return negatif setelah kejadian positif, adanya return positif setelall kejadian
negatif, serta ingin mengetallui perbedaan yang signifikan antara return negatif
dengan return positif.
Sallam-sallam yang menjadi sampel penelitian ini, adalall sallam-sallam
yang relatif aktif diperdagangkan di Bursa Efek Jakarta selama periode
pengamatan 2001 sampai dengan 2002. Karena peri ode penelitian pendek (dua
tallun), maka interval waktu yang digunakan adalah harian untuk mendapatkan
jumlall observasi yang lebih banyak. Dalam mengestimasi return digunakan
Mean-Adjusted Model. Sedangkan indeks pasamya digunakan lndeks harga
Saham Gabungan (IHSG) untuk menghitungnya.
Sampel penelitian yang diperoleh sebanyak 24 saham. Setelah melakukan
pengumpulan data, saham-sallam sam pel penelitian tersebut dianalisis dcngan
langkall-Iangkall sebagai berikut:I. Menghitung return pasar dan mengelompokkannya berdasarkan
k~iadiannya.
2. Menghitung return saham pada saat kejadian negatif dan pada saat
k~iadian posltif.
3. Menghitung return saham selama 60 hari setelah kejadian negatif ekstrim
dan setelah kejadian positif ekstrim.
4. Menghitung tingkat retum yang diharapkan dengan menggunakan Model
Mean Ac!justeJ Return.
5. Menghitung Ahnormal Return (AR) dan Cumulative Ahnormal Return
(CAR).
6. Pengujian nonnalitas data A hnormal Retllrn (AR) dan Cumulative
Ahnormal Return (CAR) dcngan menggunakan Kolmogorov Smirnov.
7. Pengujian Hipotesis.
Berdasarkan hasil diatas, peneliti dapat menyimpllikan bahwa:
1. Terdapat return negatifyang signifikan setelah kejadian positif
2. Terdapat return positifyang signifikan setelah kejadian negatif
3. Terdapat perbedan yang signifikan antara return negatif dengan retum
positif
Selanjlltnya peneliti dapat memberikan saran atas hasil pembahasan
sebagai berikut:
1. Bagi peneliti lain yang akan melakukan penelitian dalam ruang lingkup
pembalikan harga, dianjurkan dalam menentukan periode pengamatan
tidak hanya menggunakan 60 hari sesudah terjadinya perubahan yang
ekstrim tetapi bisa juga menggunakan 70 sampai 10 han sebelum
teIjadinya perubahan yang ekstrim. Adapun penentuan penggunaan
periode pengamatan tersebut, didasarkan pada penelitian yang dilakukan
oleh Atkins dan Dyl (1990) seperti yang dikutp dalam Iramani dan
Farida Umaiyanti (2002).
2. Bagi peneliti selanjutnya, untuk mengamati fenomena pembalikan harga
(price reversals) selain menggunakan Indeks Harga Saham Gabungan
dapat pula menggunakan sampel lain yakni lndeks LQ-45. Dengan
pertimbangan bahwa saham-saham yang masuk dalam LQ-45
mempunyai likuiditas yang tinggi dan aktif diperdagangkan, sehingga
memiliki kemungkinan menghasilkan suatu kesimpulan yang lain.
3. Bagi investor, dalam kondisi bagaimanaptm investor seharusnya dapat
bertindak secara rasional. Investor sebaiknya tidak over reaksi terhadap
setiap infonnasi yang diterimanya. Jika investor men