Abstract :
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pergulatan budaya tradisional
dan modern pada batik di Indonesia umumnya dan di Jawa Tengah pada khususnya
dalam novel Canting karangan Arswendo Atmowiloto yang diperoleh melalui kajian
cultural studies. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif
kualitatif. Pendekatan dalam penelitian ini adalah struktural dan cultural studies.
Penelitian ini difokuskan pada pergulatan budaya tradisional dan modern yang
ditampilkan dalam novel Canting. Novel Canting merupakan novel yang
menampilkan tema perjuangan mempertahankan budaya lokal yang berujung pada
resistensi terhadap modernisasi. Resistensi terhadap modernisasi menjadi isu utama
yang diangkat dalam novel tersebut. Beberapa masalah pokok yang dibahas dalam
penelitian ini, yaitu: (1) bagaimana budaya lokal direpresentasikan dalam Canting,
(2) bagaimana pergulatan budaya tradisional dan modern dalam novel Canting yang
direpresentasikan dengan menggunakan pendekatan cultural studies. Hasil penelitian
ini diperoleh melalui teori modernisme yang menunjukkan bahwa representasi
mengenai pergulatan budaya lokal dan modern pada tahun 1960-an muncul dalam
lingkup permasalahan keluarga.
Pada akhir abad XVIII, batik menjadi pakaian eksklusif keluarga kerajaan.
Produksinya dilakukan hanya dalam keraton sebab batik hanya boleh digunakan oleh
keluarga keraton. Busana dalam kain batik adalah alat legalisasi kekuasaan elit dari
zaman kerajaan hingga kini dengan transformasi kemasan menyesuaikan ruang dan
waktu. Masyarakat di luar keraton kemudian belajar membatik dari para pengrajin
batik keraton dan meniru motif-motif batik keraton. Lama kelamaan, masyarakat di
ii
luar keraton banyak yang menjadi pengrajin batik, sehingga batik menjadi pakaian
rakyat yang digemari. Akan tetapi, rakyat tetap tidak berani mengenakan motif-motif
larangan atau batik sengkeran karena tidak ingin dianggap menghina raja. Jika
tadinya pemakaian batik menjadi penanda status sosial dan pembeda kelas, lamakelamaan
batasan-batasan tersebut mulai luruh. Kini, semua orang bisa memakai
batik, sehingga pasar menyambut baik hal ini dan menyebabkan produksi batik
dikerjakan secara massal. Kuantitas produksi besar dengan harga murah yang
membanjiri pasar, sehingga perlahan dan pasti penanda status sosial serta makna
simbolik batik hilang dan berubah menjadi sekadar komoditas tekstil.
Canting memperlihatkan praktik-praktik nyata modernisasi di Indonesia,
dalam hal ini hadirnya batik printing. Keberadaan batik printing, sedikit demi sedikit
mulai menggerus keberadaan batik tulis. Resistensi tokoh utama dalam menghadapi
keberadaan batik printing semakin jelas terlihat ketika ia berada pada titik terabaikan
dan terkoloni. Kehadiran batik printing sebagai salah satu hambatan dalam merintis
kembali usaha batik tradisionalnya sama sekali tidak diharapkan. Keadaan memaksa
tokoh utama untuk melakukan suatu bentuk perlawanan sebagai balasan dari
berlangsungnya sebuah penindasan atau penjajahan terhadap usaha batik tulis.
Modernisasi, teknologi, dan kebudayaan massal, seperti dua sisi mata uang yang
berlainan. Di satu sisi, berdampak positif meningkatkan kualitas hidup manusia dan
masyarakat Indonesia agar setara dengan masyarakat modern bangsa lain, namun di
sisi lain kehadiran modernisasi dalam hal ini batik printing juga menimbulkan
dampak negatif, yaitu tergusurnya usaha batik tulis tradisional.
Kata kunci: budaya, tradisional, modern, batik tulis, batik printing, subdominan,
dominan, cultural studies.