Abstract :
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap representasi hijab di koran New York
Times melalui penggunaan bahasa dan tata bahasa dalam artikel-artikelnya. Penelitian ini
menggunakan kerangka analisis transitivitas, sebuah analisis yang mengidentifikasi makna
eksperiensial serta diwujudkan dengan pilihan tata bahasa dan kata. Penelitian ini
dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan penelitian tentang bagaimana hijab
direpresentasikan dalam koran New York Times? Metode yang digunakan untuk meneliti
representasi di sini adalah deskriptif analitis interpretif. Sumber data adalah tujuh artikel
berita terkait dengan hijab di koran New York Times antara Januari 2009 - Maret 2012.
Proses, partisipan dan sirkumstan dalam setiap klausa yang berkaitan dengan hijab menjadi
fokus yang dianalisis untuk mengungkap representasi hijab. Setelah melakukan analisis,
ditemukan 393 klausa yang berhubungan dengan hijab. Hasil temuan transitivitas
menunjukan bahwa proses material mendominasi klausa dengan 49,36%, diikuti dengan
proses verbal sebesar 21,21%, proses relational dengan 19,33%, proses mental dengan
8,4% serta proses behavioral dan eksistensial yang masing-masing sebesar 1,01% dan
0,5%. Untuk partisipan, Gol dan Aktor mendominasi jumlah partisipan secara keseluruhan
sebesar 21,4% dan 18,53%, dan sebagai non-human partisipan, hijab direpresentasikan
paling banyak sebagai Gol dengan prosentase sebesar 41,79%. Lokasi tempat dan waktu
mendominasi jumlah sirkumstan sebesar 26,97% dan 23,72% Selanjutnya hasil temuan
gramatika transitivitas tersebut diinterpretasikan menurut pilihan kata dan posisi hijab saat
berada di dalam sebuah klausa. Hasil interpretasi menunjukkan bahwa hijab
direpresentasikan sebagai identitas wanita muslim yang dipakai untuk menutup seluruh
tubuh kecuali wajah dan tangan di depan umum. Selain itu hijab juga direpresentasikan
sebagai hal yang dapat menghambat kegiatan wanita muslim karena hijab
direpresentasikan sebagai asesoris yang tidak pantas untuk beberapa pekerjaan dan pakaian
yang tidak aman untuk beberapa kegiatan fisik. Terakhir, hijab direpresentasikan sebagai
alat politik dan penyataan fesyen, bukan lagi hanya sebagai simbol kesalehan atau
kesopanan bagi wanita muslim.