Abstract :
ABSTRAK
Tanaman tebu (Saccharum officinarum L). merupakan bahan baku utama gula, sehingga
menjadi salah satu komoditi perkebunan yang memiliki peran strategis dalam
perekonomian Indonesia. Pada tahun 2022 produksi tebu di Indonesia mencapai 2,41 juta
ton pada tahun 2022, hal tersebut masih sangat jauh mengingat kebutuhan gula nasional
yakni sebesar 6,48 juta ton. Beberapa cara telah di upayakan guna meningkatkan produksi
gula yakni dengan ekstensifikasi dan intensifikasi tanaman tebu, hal tersebut diharapkan
dapat mewujudkan swasembada gula yang juga akan membuka peluang terciptanya
bioetanol dari tebu guna ketahanan energi, dimana bioetanol tebu dapat menjadi campuran
bahan bakar minyak jenis minyak bensin, beberapa negara telah melakukan kegiatan
tersebut diantaranya negara Brazil.
Indonesia memiliki beberapa provinsi yang menjadi penghasil gula salah satunya Provinsi
Lampung merupakan provinsi kedua terbesar setelah Provinsi Jawa Timur yang
mempunyai perkebunan tebu yakni seluas 136,22 ribu Ha. Intensifikasi tanaman tebu terus
diupayakan diantaranya meningkatkan jumlah populasi tanaman tebu per hektar,
peningkatan jumlah batang per meter juring, serta total dan panjang juring juga sangat
menentukan Peningkatan jumlah batang per meter juring dapat dilakukan dengan
penambahan jumlah bibit, sedangkan peningkatan faktor juring dapat dilakukan dengan
memperpendek jarak PKP (pusat ke pusat). Produktivitas tanaman merupakan hasil dari
semua faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman dalam satu musim.
Berdasarkan hasil studi kasus ini, ada beberapa perlakukan yang perlu diperhatikan dalam
peningkatkan produktivitas tanaman tebu salah satunya, memperpendek jarak pusat ke
pusat (PKP) sangat menguntungkan terhadap tonase yield per hektar, dimana populasi tebu
dapat bertambah banyak, selain itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan diantaranya
jenis varietas tanaman tebu serta umur panen tanaman tebu juga sangat mempengaruhi
produktivitas tonase yield per hektar.