Abstract :
Data berupa nomor Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS)
kesehatan harus dijaga kerahasiaannya untuk mencegah terjadinya
penyalahgunaan data pribadi oleh pihak-pihak yang tidak berwewenang untuk
mengetahuinya. Salah satu cara yang dapat digunakan adalah dengan
menggunakan algoritma kriptogtafi RSA (Ron Rivest, Adi Shamir dan Leonard
Adleman). Dalam algoritma RSA, kunci untuk melakukan proses enkipsi akan
berbeda dengan kunci yang akan dilakukan saat menjalankan proses dekripsi.
Saat menemukan kunci dekripsi, orang-orang harus memfaktorkan bilangan
bukan prima ke dalam bilangan primanya. Faktanya, analisis bilangan non
prima untuk menganalisis bilangan prima bukanlah tugas yang mudah.
Semakin besar bilangan bukan prima, semakin sulit diurai. Setelah
menjalankan proses enkripsi akan diperoleh sebuah pesan tanpa makna atau
disebut dengan cipherteks. Proses enkripsi dan dekripsi hanya dapat dilakukan
oleh pihak yang mengetahui kunci publik dan kunci privat saja. Dalam
penelitian ini peneliti menggunakan 5 simulasi pasien yang mewakili pasien
kunjungan sakit di fasilitas kesehatan (faskes) Puskesmas Pembantu Lingga
Raja II. Peneliti menggunakan 5 simulasi karena di dalam nomor BPJS dari
kelima pasien tersebut telah mewakili angka 0 sampai 9 yang digunakan di
dalam 13 digit nomor dari BPJS. Setelah melakukan proses enkrpsi maka
diperoleh cipherteks atau sebuah pesan tanpa makna dari plainteks 1 yaitu
???v??#????EM#, plainteks 2 yaitu ???EMDC1?#v?DC1??v, plainteks 3 yaitu
???EM DC1?#v?DC1?DC1SUB, plainteks 4 yaitu ????v#vDC1EM?SUB?¤ dan
plainteks 5 yaitu ???vEMNNN?#¤vDC1. Dengan demikian, orang yang tidak
berwewenang akan sulit mengetahui arti dari karakter di dalam cipherteks
tersebut.
Data in the form of a health Social Security Organizing Agency (BPJS)
number must be kept confidential in order to prevent misuse of personal data by
parties who are not authorized to know it. One way that can be used is by using
the RSA (Ron Rivest, Adi Shamir and Leonard Adleman) cryptographic algorithm.
In the RSA algorithm, the key to perform the encryption process will be different
from the key to perform the decryption process. In fact, analyzing non-prime
numbers to analyze prime numbers is not an easy task. The larger the non-prime
number, the more difficult it is to decipher. After running the encryption process, a
message without meaning will be obtained or called ciphertext. The encryption
and decryption process can only be done by parties who know the public key and
private key. In this study, researchers used 5 patient simulations representing
sick visit patients at the health facility (facility) Puskesmas Pembantu Lingga Raja
II. Researchers used 5 simulations because the BPJS numbers of the five patients
represented the numbers 0 to 9 used in the 13 digit number of the BPJS. After
performing the encryption process, a ciphertext or a message without meaning
from plaintext 1 is obtained, namely ???v??#????EM#, plaintext 2 is ???EMDC1?
#v?DC1??v, plaintext 3 is ???EMDC1?#v?DC1?DC1SUB, plaintext 4 is
????v#vDC1EM?SUB?¤ and plaintext 5 is ???vEMNNN?#¤vDC1. Thus, it will be
difficult for an unauthorized person to know the meaning of the characters in the
ciphertext.