Abstract :
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui level mantangan yang terbaik
ditinjau dari profil produksi gas secara in vitro. Penelitian ini dilakukan
berdasarkan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan dan empat
ulangan (5 × 4). Perlakuan ini terdiri dari P0 = 0% Mantangan + 100%
Kolonjono; P1 = 25% Mantangan + 75% Kolonjono; P2 = 50% Mantangan + 50%
Kolonjono; P3 = 75% Mantangan + 25% Kolonjono, dan P4 = 100% Mantangan
+ 0% Kolonjono. Kedua bahan pakan dicacah dengan ukuran 2-3 cm dan
dicampur sesuai perlakuan dan dimasukkan ke dalam botol silo dan disimpan pada
suhu ruang selama 21 hari. Setelah 21 hari, silase dikeringkan ke dalam oven
60?, kemudian digiling menggunakan hummer mill. Sebanyak 1 gr sampel dari
tiap perlakuan ditimbang ke dalam botol serum lalu diinkubasi dengan anaerobik
medium (48 ml larutan buffer + 12 ml cairan rumen) pada suhu 39?C selama 72
jam. Produksi gas diukur setelah periode inkubasi 3, 6, 9, 12, 24, 48, dan 72 jam.
Data kumulatif gas (ml/g BO) difitting ke dalam model P = b (1 ? exp ?ct), dimana
P = total produksi gas pada waktu t, b = volume gas hasil fermentasi BO yang
tidak soluble tapi potensial untuk didegradasi dan c = laju fermentasi dari fraksi b
(ml/jam). Parameter dianalisis ragam dan jika perlakuan berpengaruh nyata maka
dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan
berpengaruh nyata (P<0.05) terhadap laju fermentasi (nilai c) dan total gas tetapi
tidak nyata (P>0.05) terhadap nilai b. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa
penggunaan level mantangan 75% dalam silase menghasilkan profil produksi gas
yang lebih baik dibandingkan dengan perlakuan lainnya.