Abstract :
Latar Belakang: Tuberkulosis diakibatkan oleh Mycobacterium tuberculosis, dengan cara penularan yang mirip dengan COVID-19 yaitu melalui percikan dahak (droplet). Dampak pandemi COVID-19 yang terjadi salah satunya adalah terpengaruhnya kemungkinan diagnosis kasus TB Paru oleh karena perubahan sistem pelayanan kesehatan selama pandemi COVID-19.
Tujuan: Untuk mengetahui karakteristik diagnostik pasien TB Paru selama pandemi COVID-19 di RSUD Raden Mattaher Periode Januari 2020 ? Desember 2021.
Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif retrospektif. Sampel penelitian ini adalah pasien TB Paru di RSUD Raden Mattaher Jambi periode Januari 2020 ? Desember 2021 dengan melihat rekam medis pasien dan memenuhi kriteria inklusi. Penelitian ini menggunakan analisis univariat terhadap data yang diambil secara total purposive sampling.
Hasil: Sampel dalam penelitian ini sebanyak 142 orang. Karakteristik sampel, yaitu kelompok usia terbanyak yang menderita TB Paru adalah lansia awal (46-55 tahun) (30,3%) dan didominasi oleh laki-laki (74,6%). Gejala klinis yang paling sering dikeluhkan adalah sesak napas (84,5%). Hasil pemeriksaan BTA yang paling banyak adalah tidak ada data (40,8%) dengan hasil pemeriksaan TCM juga tidak ada data (40,1%). Hasil radiologi foto toraks yang paling banyak ditemukan adalah infiltrat (55,6%). Cara penegakan diagnosis pasien yang paling banyak dilakukan adalah Klinis + BTA + TCM + Foto toraks (54,2%).
Kesimpulan: TB Paru paling banyak didiagnosa pada kelompok lansia awal (46- 55 tahun), mayoritas laki-laki, pasien umumnya mengeluhkan sesak napas, pemeriksaan BTA dan pemeriksaan TCM tidak ada data dengan gambaran foto toraks infiltrat, dan diagnosis ditegakkan dengan klinis + BTA + TCM + foto toraks.
Kata Kunci: Karakteristik diagnostik TB Paru, COVID-19, RSUD Raden Mattaher