Abstract :
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan ketidakadilan gender terhadap
tokoh perempuan dalam antologi naskah drama Bayang(k)an. Penelitian ini
merupakan penelitian kualitatif dan menggunakan pendekatan feminisme sastra.
Data penelitian ini ialah tokoh perempuan dalam empat naskah drama dalam
antologi naskah drama Bayang(k)an yang berupa kata, kalimat, dialog, dan teks
samping. Sumber data penelitian ini ialah antologi naskah drama Bayang(k)an,
terbitan Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki cetakan
pertama pada Desember 2022. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan
dengan cara membaca, memilah, mencatat, dan menganalisis data penelitian.
Hasil penelitian menunjukan bahwa bentuk ketidakadilan gender dalam antologi
naskah drama Bayang(k)an ditemukan menjadi lima yaitu, (1) marginalisasi,
merupakan bentuk peminggiran atau pemiskinan yang dialami tokoh yang
disebabkan karena penggusuran yang mengakibatkan hilangnya tempat mencari
nafkah dan kemiskinan. (2) subordinasi, anggapan negatif terhadap gender yang
mengakibatkan terjadinya ketimpangan. (3) stereotipe, pelabelan yang diberikan
terhadap kaum yang menimbulkan ketidakadilan. (4) kekerasan, sikap
ketidaksetaraan terhadap gender yang berpengaruh pada fisik maupun psikis
tokoh dan (5) beban kerja, merupakan tanggung jawab ganda yang harus
dijalankan perempuan.
Dapat disimpulkan bahwa terdapat empat naskah drama yang memuat
ketidakadilan gender terhadap tokoh perempuan dalam antologi naskah drama
Bayang(k)an, yaitu naskah drama Tinggal Tanggal karya Indah Mustika Shanti,
Berontak Berotak karya Silvi F. Adhiana, Narasi Hati Echa karya Sari Setyorini,
dan Dangdut Gerobak Dorong karya Raihan Robby. Dari empat naskah drama
tersebut, ketidakadilan gender yang dominan terjadi ialah berupa kekerasan.
Secara umum, kesimpulan tersebut menggambarkan bahwa naskah drama tersebut
mengangkat isu-isu ketidakadilan gender. Isu-isu ini mencerminkan realitas
ketidaksetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam berbagai aspek kehidupan.
Kata kunci: tokoh perempuan, naskah drama Bayang(k)an, teori feminisme sastra
This research aims to describe gender injustice towards female characters in the drama script anthology Bayang(k)an. This research is qualitative research and uses a literary feminist approach. The data for this research are female characters in four drama scripts in the Bayang(k)an drama script anthology in the form of words, sentences, dialogue and side text. The data source for this research is the drama script anthology Bayang(k)an, published by the Jakarta Arts Council Theater Committee, Taman Ismail Marzuki, first printed in December 2022. Data collection in this research was carried out by reading, sorting, recording and analyzing research data.
The results of the research show that there are five forms of gender injustice in the drama script anthology Bayang(k)an, namely, (1) marginalization, which is a form of marginalization or impoverishment experienced by characters due to eviction which results in the loss of a place to earn a living and poverty. (2) subordination, negative perceptions of gender which result in inequality. (3) stereotypes, labels given to people that cause injustice. (4) violence, unequal attitudes towards gender which affect the physical and psychological aspects of the characters and (5) workload, which is a double responsibility that women must carry out.
It can be concluded that there are four drama scripts that contain gender injustice towards female characters in the anthology of drama scripts Bayang(k)an, namely the drama scripts Staying Date by Indah Mustika Shanti, Berontak Berotak by Silvi F. Adhiana, Narasi Hati Echa by Sari Setyorini, and Dangdut Wheelbarrow by Raihan Robby. Of the four drama texts, the dominant gender injustice that occurs is in the form of violence. In general, this conclusion illustrates that the drama script raises issues of gender inequality. These issues reflect the reality of inequality between men and women in various aspects of life.
Key words: female characters, drama script Bayang(k)an, literary feminist theory