Abstract :
Batubara merupakan sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan
dan kebutuhan hidup manusia agar hidup lebih sejahtera yang ada di sekitar alam lingkungan
hidup kita. Pada studi kasus ini transportasi batubara memanfaatkan sungai sangkulirang sebagai
alur transportasi. Target angkutan batubara yang akan dicapai yaitu 7.000.000 ton per tahun dan
akan ditingkatkan menjadi 14.000.000 ton setiap tahun. Perbedaan sungai pasang surut terjadi
dua kali dalam satu hari , dengan kedalaman air terendah 3,4 m . Kapasitas conveyor untuk
loading batubara di terminal sungai adalah 1.840 mt / jam dan 1,042 mt / jam di terminal
Transhipment. Dalam kondisi normal , lokasi pendangkalan daerah pasang surut yang tidak bisa
dilalui oleh tongkang sepanjang 500 m . Ukuran dari tongkang yang digunakan 270 ft dengan
kapasitas 5.260 Ton . Jarak perjalanan sejauh 61,10 km.
Penggunaan tongkang tarik menjadi pilihan alat transportasi yang digunakan pada studi kasus ini
dengan konsep penempatan tongkang kosong di pelabuhan muat (Jetty) dan di pelabuhan
bongkar (Transhipment). Dengan hasil angkutan batubara yang diperoleh 6.611.820 Ton / Tahun
dan Trip 1.257. Penggunaan tongkang 270 ft dengan draft 3,6 m pilihan yang paling optimal
dengan hasil angkutan batubara 22,75% lebih unggul dibandingkan tanpa menempatkan
tongkang kosong. Tarif angkutan batubara yaitu Rp 54.876 / Ton untuk jarak tempuh 329.914
NM. Total emisi gas buang yang dihasilkan 9.962.098 Ton/tahun.
Penggunaan tongkang kosong yang ditempatkan dipelabuhan memiliki tingkat yang lebih efisien
dibandingkan tanpa menempatkan tongkang kosong dipelabuhan. Semakin banyak jumlah
angkutan batubara yang dihasilkan maka akan semakin efisien biaya ekonomi yang dikeluarkan
dan semakin sedikit total emisi gas buang yang dihasilkan.