Abstract :
Pada jaman modern ini kepercayaan terhadap suatu
dewa masih tetap ada. Jepang, termasuk salah satu
negara besar yang sangat mempercayai keberadaan
dewa. Dewa yang mereka percayai kebanyakan berasal
dari suatu tradisi kuno. Suatu tradisi kuno dapat
dilestarikan menjadi suatu kebiasaan dan dapat
berkembang lebih luas lagi menjadi suatu festival,
dibutuhkan kesadaran dari diri masing-masing
individu terhadap kelestarian kebudayaan suatu
bangsa itu sendiri.
Bila kita lihat, tradisi kuno bangsa Jepang tidak
hanya terletak pada dewa yang berwujud selayaknya
dewa, dewa yang penuh dengan kharisma dan wibawa,
tetapi mereka juga mempercayai terkadang dewa
datang ke dunia dengan menyamar. Karena dewa
dipercaya mempunyai kemampuan untuk berubah wujud,
sehingga tidak akan mungkin seorang dewa tidak
mampu merubah penampilan mereka menjadi suatu
sosok yang menyeramkan sekalipun.
Namahage adalah salah satu wujud kepercayaan
rnasyarakat Jepang khususnya di sernenanjung Oga
akan dewa yang sedang rnenyarnar sebagai Iblis.
Kepercayaan ini diwujudkan dalam bentuk Festival
Namahage yang dirayakan setiap 31 Desernber. Dewa
dalarn samaran ini akan datang setiap akhir tahun
ke rurnah penduduk setempat dengan berpakaian
lengkap seperti monster yang rnenyerarnkan.
Dipercaya oleh masyarakat, dengan kedatangan
Namahage ke rurnah rnereka rnaka keberuntungan akan
datang pada dua belas bulan ke depan. Menurut asal
katanya, Namahage berasal dari ketika seorang
pernalas datang dan duduk di perapian. Sehingga
kata Narnahage berasal dari "Hagu" yang berarti
rnengelupas dan "Namumeyo" dan "Namomi" yang
berarti luka bakar. Jadi secara keseluruhan
Namahage berarti rnerubah orang yang rnalas rnenjadi
orang yang rajin.
Dengan adanya Festival Namahage ini tidak hanya
suatu cara rnelestarikan tradisi bangsa tetapi juga
rnarnpu rnernbawa narna bangsa Jepang lebih baik dari
sebelumnya, khususnya keberadaan sernenanj ung Oga
sernakin terlihat dirnata wisatawan asing.