Abstract :
Penulis sangat setuju dengan apa yang dikatakan Nio Joelan dalam
bukunya yang berjudul Sastra China sepintas lalu. Ia mengatakan sastra sebagai
sejarah yang diromanisasikan. Karena, sebuah karya sastra adalah pencerminan
segala apa yang berada dalam lubuk hati manusia. Tiap novel merupakan
semacam pencatatan sejarah dengan hanya beberapa anggota masyarakat sebagai
tokohnya. Tiap lisan merupakan suatu konsepsi penciptanya mengenai dunianya.
1
Dengan membaca suatu karya sastra, secara tidak langsung telah memasuki dunia
dan pemikiran sang pengarang tersebut.
Selain "menikmati", kita juga disuguhi kejadian yang dialami oleh pengarang
tersebut. Nio Joelan juga mengatakan, berarti kita telah mempelajari keadaan si
pengarang atau orang-orang dalam tokoh itu. Dalam hal ini, membaca novel
bertaraf sama dengan membuat studi. Studi mengenai keadaan masyarakat
sebagaimana yang dibayangkan oleh seorang penulis. Atau studi mengenai
perasaan sebagaimana yang dikristalisasikan dalam sajak-sajak penyair.
Pengarang pada hakekatnya adalah seorang yang merespon lingkungan sosial
budayanya dengan upaya menciptakan keseimbangan baru.
3
Oleh karena itu,
ketika menganalisis karya sastra, dibutuhkan data-data sastra sebagai data yang
empirik dan keterkaitannya dengan fenomena sosial lainnya, seperti pemahaman
budaya, sejarah, peradaban, keyakinan, dan lain sebagainya.