Abstract :
Pada kenyataannya setiap perusahaan pasti mempunyai masalah
tergantung pada jenis industri yang diterapkan juga pada perusahaan itu
sendiri. Berawaf dari permintaan produk yang tidak sesuai antara
kapasitas dan permintaan produk emas batangan konsumen yang tidak
menentu, macam data yang dibutuhkan, proses operasi maufaktur,
pelayanan terhadap konsumen, serta karasteristik produk yang bervariasi
yang dihasilkan perusahaan. Untuk itu penelitian ini terfokus kepada
perencanaan produksi pada produksi emas batangan pada varian berat:
1 g, 2g. 25g 3
g, 4 g, 5 g, 10 g, 25 g, 50 g, 100 g, pada PT. Antam Tbk
(persero) UBPP. LogamMulia.
Seiring dengan kemajuan teknologi, berbagai perusahaan
manufaktur membutuhkan cara yang lebih mudah dan cepat untuk
memperkirakan rencana produksi pada periode waktu berikutnya.
Disinilah dilakukan untuk mencapai biaya produksi yang terkecil. Yang
dimaksud perencanaan produksi disini adalah untuk menentukan
kebutuhan banyak tenaga kerja, biaya tenaga kerja yang direkrut dan
diberhentikan, biaya penyimpanan, biaya pemesanan kembali, serta
kapasitas produksi yang dihasilakan pertiap tenaga kerja. Semua biaya
tersebut disebut dengan biaya produksi. Untuk dapa memenuhi
permintaan konsumen maka harus didapatkan biaya produksi terkecil
(minimum) dengan metode yang digunakan yaitu Spreadsheet, yang
terdiri dari zero inventori plan, level work force plan with back order dan
level work face with no bak order, serto metode Transport Shipment
probem.
Yang didapatkan hasil sebagai berikut, yaitu zero inventori plan Rp.
813.140.000, level work force plan with back order Rp.3.302.759.930,
level work foce with no bak order 11.702.049.113, Transport Shipment
probem Rp. 687.498.000, maka yang akan digunakan adalah metode TSP
dengan biaya terkecil Rp. 687.498.000.
Saran penulis untuk perusahaan bahwa Metode Transport
Shipment Problem dapat diaplikasikan untuk perencaanaan produksi,
supaya biaya produksi bisa lebih ekonomis, dan tidak dianjurkan
perencanaan dengan metode level work force plan with back ataupun
level work foce with no bak order karena dapat menimbulkan biaya
inventory cost sangatlah tinggi