Abstract :
ABSTRAKSI
Tantangan industri manufaktur pada abad 21 ditandai dengan tingginya
tingkat kompetisi akan menuntut setiap pelaku dunia industri untuk berproduksi
secara efisien dan mampu mengikuti perubahan atau dinamika pasar.
Salah satu usaha untuk tetap "survive bahkan menjadi "leader adalah
dengan menerapkan konsep Reengineering pada proses bisnis. Konsep BPR
(Business Process Reengineering) adalah pemikiran dan perancangan ulang suatu
proses bisnis secara mendasar/fundamental dan radial untuk mendapatkan
perbaikan secara dramatis (achieving quantum leaps in performance).
Berkenaan dengan hal tersebut di atas, studi ini bertujuan untuk membahas
mengenai penerapan konsep BPR pada salah satu bagian di lingkungan PT.
Toyota Astra Motor. Yaitu dengan dilterapkannya sistem Kanban pada Komponen
Lokal di PT. Toyota Astra Motor (sebelumnya digunakan sistem Scheduling dengan
metode MRP). Dimana tujuan utamanya adalah menciptakan suatu efisiensi dengan
cara mengurangi stok dan memperpendek
lead time, sehingga space yang
dibutuhkan pun akan berkurang sehingga akan menurunkan cost (cost down).
Selain itu juga dilakukan perbaikan untuk sistem Kanban "tire" (penulis membatasi
penelitiannya hanya pada satu jenis part saja, yaitu tire dengan 3 suppliernya).
Yang dilakukan untuk menganalisa permasalahan
ini adalah dengan
membandingkan sistem Kanban dengan sistem penjadwalan MR P untuk ketiga
supplier tire (dihitung secara teoritis). Setelah itu dilakukan perbaikan untuk sistem
Kanban tire itu sendiri.
Dari hasil perhitungan dan analisa yang dilakukan diperoleh hasil sebagal
berikut :
1. Sebelum menggunakan sistem Kanban Lead timenya adalah 2 hari,
stok awalnya sebanyak 1 hari produksi, dan stoknya dalam satuan hari
produksi sehingga space yang diperlukan sangat besar.
2. Setelah menggunakan sistem Kanban. lead timenya menjadi 1 hari,
stok awalnya hanya untuk 4 jam produksi dan stoknya dalam satuan
jam produksi, sehingga space yang dibutuhkan jauh lebih kecil.
3. Sebelum dilakukan perbaikan untuk sistem Kanban tire,pemakaian
tirenya belum FIFO, sehingga stok yang terjadi setiap hari untuk ketiga
merk tire tersebut tidak sesuai dengan jam pemakaiannya, stoknya juga
masih cukup banyak (untuk ukuran sistem Kanban) dan space yang
dibutuhkan adalah untuk sebesar 36 Kanban (36 pallet).
4. Setelah perbaikan sistem Kanban tire, pemakaian tirenya FIFO,
sehingga stok perharinya untuk setiap merk tire sesuai dengan jam
pemakaiannya, stoknya berkurang dan space yang dibutuhkannyapun
berkurang dari 36 Kanban menjadi 24 Kanban.
Dengan demikian dapat dikatakan, penerapan sistem Kanban dalam
ranga rekayasa ulang sistem inventori di PT. Toyota Astra Motor merupakan hal
yang penting dan sangat berpengaruh terhadap peningkatan efisiensi dalam sistem
total manufakturnya.