Institusion
Universitas Darma Persada
Author
Trisila, Wuriyanto
Subject
158.7 Industrial Psychology/Psikologi Industri, Psikologi Perindustrian, Psikologi Bisnis, Motivasi Kerja
Datestamp
2023-10-27 04:18:51
Abstract :
RINGKASAN
Kemajuan teknologi dan manajemen, telah mampu mengatasi
masalah yang dihadapi sektor produksi. Akibatnya alokasi sumber
lebih diarahkan pada strategi bagaimana menjual produk sesuai
dengan tun tu tan konsumen. Sehingga,terpenuhitidaknya tun tu tan
tersebut tidak hanya bergantung pada kecanggihan proses dan alat
produksi, tetapi juga oleh sifat manusia -manusia pembuatnya.
Sistem Manajemen Mutu adalah gabungan dari manajemen
ilmiah dan manajemen perilaku,
yang
memperlakukan
sumber daya
manusia sebagai modal utama dan merupakan potensi yang selalu
dapat dikembangkan dan didayagunakan semaksimal mungkin.
Produktivitas karyawan timbul jika ia memiliki kemampuan dan
motivasi yang tinggi. Produktivitas yang tinggi dapat dilihat dari
unjuk kerja yang tinggi. Pemenuhan motivasi seseorang
diharapkan akan menimbulkan kepuasan yang pada akhirnya dapat
mempengaruhi unjuk kerja orang tersebut.
Terdapat banyak cara meningkatkan kepuasan kerja
karyawan. Salah satunya melalui Pengendalian Mu tu Terpad u (PMT),
yang dilaksanakan dengan membentuk Gugus Kendali Mutu (GKM).
Penelitian ini memiliki tujuan umum mengkaji hubungan
penerapan PMT/ GKM dengan kepuasan kerja karyawan serta
kepuasan kerja dengan unjuk kerja. Sedangkan tujuan khususnya
adalah: (1) Mengkaji perbedaan kepuasan kerja antara Kelompok
GKM dengan Kelompok Non-GKM. (2). Meneliti faktor-faktor
kepuasan yang membedakan kedua kelompok tersebut. (3). Melihat
hubungan antara kepuasan kerja dengan unjuk kerja kedua
kelompok tersebut.
Keenam faktor kepuasan kerja yang diteliti, terdapat 5 (lima)
faktor yang membedakan kedua kelompok secara signifikan, yaitu
kepuasan atas kebijakan perusahaan, hubungan dengan rekan
kerja, hubungan dengan atasan, kebebasan dalam bekerja, dan
perkembangan karir. Sedangkan kepuasan atas pemanfaatan
kemampuan tidak membedakan kedua kelompok secara signifikan.
Kecenderungan merasa puas pada Kelompok GKM lebih tinggi
dibandingkan pada Kelompok Non-GKM untuk semua faktor.
Pada Kelompok GKM, kepuasan terhadap perkembangan karir
dan pemanfaatan kemampuan berpengaruh secara linier terhadap
unjuk kerja kelompok. Sementara itu, pada Kelompok Non-GKM yang
berpengaruhadalah kepuasanatas perkembangankarir, kebebasan
dalam bekerja, pemanfaatan kemampuan dan hubungan dengan
atasan.
Setelah melihat hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa
kepuasan kerja pada Kelompok GKM lebih tinggi dibandingkan pada
Kelompok Non-GKM. Selain itu, terda.pat perbedaan faktor-faktor
kepuasan yang berpengaruh terhadap unjuk kerja pada kedua
kelompok yang diteliti. Hasil penelitian yang lain menunjukkan
bahwa motif kedua kelompok tidak banyak berbeda. Dari tiga motif
yang diteliti, hanya motif kekuasaan yang berbeda secara
signifikan, sedangkan prestasi dan afiliasi tidak berbeda.