Abstract :
CONOCOPHILLIPS Indonesia Inc, bergerak dibidang Minyak dan gas
yang bekerja sama dengan pemerintah Indonesia dengan sistim bagi hasil,
mempunyai ketergantungan akan produksinya pada sistim perawatan pada
peralatan pemunjang produksi, salah satu anjungan lepas pantai yang dikenal
dengan nama Hang tuah platform, mempunyai masalah produksi yaitu tidak
tercapai produksi yang diakibatkan oleh gagalnya alat alat penunjang produksi.
Untuk mangatasi permasalahan ini maka dilakukan penerapan RCM ( Reability
Centered Maintenance) suatu sistim perawatan dengan yang mengacu pada
sistem keandalan yang dasarnya adalah moteda FMEA atau Failure Mode and
Effect Analisis. (analisa akibat dan model kegagalan )
Metode yang dilakukan untuk memecahkan permasalahan ini adalah
dengan mempelajari teori dari buku buku di perpustakaan juga melakukan
wawancara / diskusi dengan operator serta mengambil data peralatan di
lapangan, dari hasil wawancara maka langkah pertama membuat plan register
(daftar peralatan ) setelah dilakukan penyusunan dengan menggunakan data
P&ID dari slug catcher maka tercatat peralatan sebanyak 46 alat. Langkah
kedua menentukan program perawatan secara optimum yaitu focus pada
sistim(Critical Items),memutuskan kebutuhan perawatan yang mangacu pada
sistim kehandalan artinya biaya paling rendah dengan tidak mengorbankan
keselamatan, dari data Criticals Items maka didapatkan program maintenance
dan interval task yang berdasarkan FMEA sehingga perencanaan (planning )
dan penjadwalan ( schedulling ) dari program Preventive Maintenance menjadi
akurat, selain itu pengawasan dan pengontrolan critical items juga diperlukan
Berdasasarkan data 46 alat yang tercatat pada maka tahap selanjutnya
adalah memilah milah tabel peralatan ( plan register) dilanjutkan dengan
menghitung risk matrik ( matrik resiko ) yang mengacu pada resiko
keselamatan, lingkungan, ekonomi dan biaya. Dari hasil pemilahan, pada
peralatan didapatkan yang mempunyai resiko tinggi terhadap keselamatan 4
alat, lingkungan 2 a/at, ekonomi 4 alat, dan biaya 2 a/at. Selain itu juga
ditentukan resiko yang lain yaitu resiko tinggi, menengah dan rendah, hasilnya
adalah sebagai berikut dari JOO % a/at, 34 peralatan atau 74 % mempunyai
resiko tinggi dan menengah, dan sisanya 12 peralatan atau 26 % mempunyai
resiko rendah. Berdasarkan data yang lain perbedaan yang tercatat sebelum
metode FMEA diterapkan maka perawatan peralatan hanya dilakukan dengan
sistem perawatan berkala dan dijalankan tanpa perawatan, setelah metoda ini
dijalankan disamping perawatan berkala dan tanpa perawatan juga ditambah
dengan system conditioning monitoring atau memantau kondisi peralatan yang
mempunyai resiko tinggi
Pelaksanan perawatan dengan metode kehandalan dapat berjalan
dengan baik dan lancar maka hendaknya diterapkan dan dilakukan. Perusahaan
perlu merekam semua informasi yang dibutuhkan untuk menyempurnakan dan
juga evaluasi terhadap penerapan perawatan yang yang dapat menjamin
kehandalan.