Abstract :
PT Herlina lndah merupakan suatu perusahaan yang bergerak
dibidang customer care yang memproduksi Soffell, sebagai perusahaan
yang berkembang, PT. Herlina Indah perlu untuk terus menerus
meningkatkan kinerja produktifitasnya dan meningkatkan keuntungan
yang sebesar -- besarnya dengan meningkatkan efisiensi dan efektifitas
kerja, menurunkan biaya, dan meningkatkan kualitas. Kesemuanya ini
bisa dicapai dengan cara menghilangkan waste yang ada pada proses
pembuatan soffel hanger. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi
serta meminimalisasi waste yang terjadi dengan mengunakan konsep
Lean Six sigma, dan memberikan rekomendasi perbaikan.
Untuk mengatasi permasalahan diatas, dalam peneli
t
ian ini
dilakukan usioner disertai dengan wawancara dan brainstorming
terhadap pihak -- pihak terkait yang dianggap mewakili dan memahami
betul mengenai proses produksi soffel hangger di PT Herlina Indah,
diagram pareto, dan penerapan metode Lean Six sigma sehingga waste
menjadi dapat di hilangkan maupun diminimalisasi.
Langkah awal dalam pemecahan masalah diatas dimulai dengan
mengidentifikasi waste menggunakan penyebaran kuisioner disertai
wawancara, kemudian hasil kuisioner diolah menggunakan metode
BORDA untuk menentukan peringkat dari setiap waste dan menentukan
waste yang paling berpengaruh. Waste yang paling berpengaruh
kemudian diidentifikasi embali dan dianalisis mengunakan Value stream
Analysis Tools ( VALSAT) dan Root Cause Analysis ( diagram ishikawa )
untuk dicari sub waste dan penyebabnya. Sub waste kemudian diurutkan
dengan Risk Priority Number dengan menerapakan metode Failure Mode
and Effect Analysis ( FMEA ). Hasil penelitian menunjuan waste yang
paling berpengaruh pada proses produksi adalah defect dan waiting.
Defect (cacat) merupakan jenis pemborosan yang memili
i skor 69
(peringkat 1), dengan bobot ni
l
k
ai 0,190608 sedangkan Waiting
(menunggu) merupakan jenis pemborosan yang memiliki skor 62
(peringkat 2) dengan bobot nilai 0,171271.
Penyebab timbulnya waste waiting adalah untuk inspeksi material
sebesar 20,20 % dari total aktifitas, sedangkan untuk penyebab waste
defect adalah scrap defect yaitu bobot tidak sesuai standar dan puti
foi
h
l
dan foto tidak presisi
.
Perusahan disarankan untuk menerapkan
pengendalian kualitas berbasis statistik dengan membuat kontrol chart
pada stiap proses inspeksi, melakukan pemeriksaan tekaana angin,
pelatihan terhadap karyawan dan memperketat inspeksi penerimaan
material.