Abstract :
PT.Asano Gear Indonesia merupakan perusahaan yang bergerak dalam
bidang Automotif Under Body dengan nama produknya Differential Carrier Assy,
yang melayani permintaan ATPM dalam hal ini adalah Daihatsu. Adapun
permasalahan yang terjadi pada perusahaan PT.Asano Gear Indonesia adalah
adanya bottleneck di stasiun kerja III sehingga mengakibatkan tingginya waktu
menganggur di stasiun tertentu karena adanya proses kerja yang lam~at atau tidak
seimbang dalam pembagian tugas kerja perstasiun. Dan juga tingginya
keseimbangan waktu senggang serta rendahnya efisiensi lintasan. Maka dari itu
dilakukan Analisis Keseimbangan Lintasan Produksi dengan menggunakan metode
Ranked Positional Weight untuk Lintasan Assembling.
Metode yang digunakan adalah mengambil data waktu proses tiap elemen
proses, kemudian mengelompokan data waktu proses menjadi beberapa subgroup,
kemudian menentukan jumlah sampel dengan tingkat ketelitian 5% dan tingkat
kepercayaan 95%, kemudian menghitung waktu baku, dan merencanakan perbaikan
lintasan produksi dengan menggunakan metode Ranked Positional Weight.
Metode penyeimbangan lintasan produksi yang digunakan yakni metode
Hagelson - birnie atau Rangked Positional Wheight (RPW), dari hasil data yang
diperoleh dengan metode tersebut menunjukan peningkatan efisiensi produksi yaitu
pada kondisi awal efisiensi lintasan sebesar 61,47 % dan setelah adanya
penyeimbangan lintasan produksi dengan metode RPW maka efisiensi naik menjadi
93,93% atou naik sebesar 32,46 %. Adapun peningkatan efisiensi lintasan produksi
Differential Carrier disebabkan antara lain oleh adanya pengurangan beberapa
stasiun kerja, yang mana pada kondisi awal stasiun kerja yang ada berjumlah 7
stasiun kerja dan pada kondisi usulan jumlah stasiun kerja menjadi stasiun, waktu
mengangur yang semula 227,12 detik menjadi 23,4 detik. Ini berarti ada penurunan
waktu mengangur sebesar 203,72 detik. Keseimbangan waktu senggang yang semula
38,52 % menjadi 6,06% ini berarti adapenurunan sebesar 32,46%.
Hasil keseimbangan lintasan produksi akan memerlukan penyatuan lokasi,
perbaikan metode kerja dan peletakan mesin (zig) dengan operator yang sebaik
mungkin memudahkan operator dalam bekerja yang pada akhirnya tercapai
keseimbangan lintasan produksi.