Abstract :
PT TAM merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang manufacturing
untuk transportasi darat yang mengkhususkan diri di segmen kendaraan pribadi
maupun perkantoran. Saat ini perusahaan merasa kesulitan di dalam
menentukan
kuantitas kanban yang sesuai dikarenakan kebutuhan kartu tersebut dapat muncul
sewaktu-waktu tanpa bisa diduga secara tepat. Adapun pemecahannya adalal
dengan menentukan antitas kanban yang sesuai berdasaran metode peramalan
terbaik.
Berdasarkan date awal yang berhasil dikump:lkan seperti data permintaan
selama periode Januari sampai dengan 4uni 2005 dan data pendukung soperti
ukuran lot, waktu tunggu dan faktor pengaman dapat ditentakan kebuthan kanttas
kanban yang sesuai pada omponen untuk komponon wire cowl menggunakan
single moving average, untnk komponen glass front door menggunakan linier
regresi, untuk komponen glass right door menggunakar linier regresi, untuk
komponen silencer roof menggunakan iinier regresi, uniuk komponen instrunent
menggunakan tinier regresi, untuk komponen cluster finish menggunakan linier
regresi, untuk kornponen glass wind shild menggunakan moving average, untu!
komponen head lamp left menggunekan moving average, untuk komponen head
lamp right menggunakan moving average dan untuk komponen fender liner
mnenggunakan moving averaga.
Berdasarkan hasil penelitiar idapatkan hasil untuk 6 periode ke depan dari
komponen-komponen pendukung jang pick up diperoleh rata-rata hasil untuk
komponen wire cowl sebaryak 8 unit kartu, glass front door sebaryak 7 anit karu,
glass right door sebanyak 8 unit kartu, silencer roof sebanyak 6 nit kart,
instrument sebanyak 8 unit kartu, cluster finish sebanyak 6 unit kartu, glass
windshild sebanyak 8 unit kartu, head kamp left sebanyak 6 unit kartu, head lamp
pright sebanyak 7 unit karu dan fender liner sebanyak & unit kortu.
Dari hasi yang didapat maka dapat dilihat kebutuhan kuantitas kartu hanban
sangat mempengaruhi aliran informasi dari lini awal sampai finishing pada
pembuatan kijang pick up ini, apabila kuantitas kanban yang diperlukan urang
maka tentunya akan terjadi bottleneck dari lini produksi.