Abstract :
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pandangan tokoh Saburou terhadap
tradisi seppuku. Seppuku ialah tradisi bunuh diri di kalangan samurai pada zaman
feodal dengan cara memotong perut sendiri. Seppuku bagi masyarakat feodal
dianggap kematian terhormat dan membanggakan, namun bagi masyarakat modern,
seppuku hanya dianggap sebagai salah satu cara dalam membunuh diri. Perbedaan
pandangan mengenai seppuku antara kedua zaman disebabkan oleh modernisasi
dan perubahan pandangan hidup seiring dengan berjalannya waktu. Namun, ada
satu dorama yang menggambarkan kedua zaman ini saling berinteraksi yaitu
berjudul Nobunaga Concerto. Dorama ini menceritakan kisah seorang pemuda
zaman modern bernama Saburou yang melakukan perjalanan waktu ke zaman
feodal dan merasakan serta menyaksikan langsung berbagai kehidupan zaman
feodal, salah satunya ialah tradisi seppuku. Penelitian ini merupakan penelitian
kualitatif dengan metode deskriptif analisis. Teknik pengumpulan data primer
melalui scene dari dorama yang berkaitan. Selain itu, kepustakaan yang digunakan
ialah melalui buku, jurnal, artikel, dan sumber elektronik. Hasil dari penelitian ini
menunjukkan bahwa Saburou, layaknya masyarakat modern tidak menyetujui
adanya tindakan seppuku, namun Saburou memahami alasan samurai melakukan
seppuku dan menghormati tindakan seppuku.